Susah Cari Ncuk dan Kutu Air

Ngopi - Susah Cari Ncuk dan Kutu Air
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Musim hujan dan banjir tentu menimbulkan banyak masalah bagi masyarakat di seputaran Jabodetabek. Terlebih bagi mereka yang daerah tempat tinggalnya menjadi langgananan banjir. Saya, walaupun daerah tempat tinggal aman dari banjir, sebagai pehobi ternak ikan hias, juga mengalami masalah saat hujan terus-terusan turun setiap harinya.

Beberapa pekan terakhir, saya makin kesulitan mencari pakan untuk ikan hias ternak, seperti jentik nyamuk (ncuk) dan kutu air. Padahal, biasanya pakan ikan alami ini gampang didapat di selokan-selokan kompleks perumahan.

Kutu air menjadi makanan alami terbaik karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi (kurang lebih 66 persen), tetapi rendah kandungan lemak (6 persen) sehingga sangat bagus untuk pertumbuhan ikan. Sementara, ncuk mempunyai khasiat yang mampu memberikan kecerahan bagi ikan-ikan hias ternak seperti cupang, guppy, molly, hingga discus.

Berita Terkait : Jarang Dikeruk

Bukannya tidak bisa disubstitusi dengan pakan ikan olahan, tapi pakan alami ini sangat bagus. Apalagi untuk anak ikan yang baru menetas, kutu air jadi menu wajib. Karena anak ikan butuh pakan dengan ukuran sangat kecil. Sementara, untuk ncuk memang bisa disubstitusi dengan pelet olahan.

Akibat hujan yang turun hampir setiap malam, selokan selalu penuh air dan terkadang luber sampai jalanan di pagi hari. Kondisi ini menyebabkan ncuk dan kutu air hilang terbawa air. Bahkan, saat hari tidak hujan, pakan gratisan ini juga tidak tampak.

Pasalnya, proses kembang biak dua hewan mikroba ini memakan waktu cukup lama. Bisa lebih dari satu minggu. Jika dalam dua hari sudah turun hujan lagi, otomatis jentik nyamuk dan kutu air akan tersingkir dari saluran air, karena terbawa arus.

Berita Terkait : Waterboom Dadakan

Dengan kondisi seperti ini, mau tidak mau saya harus putar otak agar piaraan saya bisa tetap makan, khususnya anak-anak ikan yang baru menetas. Saya terpaksa membeli kutu air beku yang dijual di pasar ikan hias Jatinegara. Itu pun tidak setiap hari tersedia. Sementara, untuk pengganti ncuk, saya menggunakan cacing beku yang juga dijual di kawasan pasar ikan hias Jatinegara.

Namun, ini tidak menyelesaikan masalah. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama, biaya ternak ikan bisa membengkak. Akibatnya, harga saat jual kembali jadi tidak kompetitif, karena akan lebih mahal.

Memang, sesekali umpan hidup ini bisa digantikan dengan pakan jenis pelet yang harganya lebih murah. Namun, pakan instan ini punya kekurangan. Jika terlalu sering dijadikan pakan dalam jangka waktu lama, warna ikan hias tidak secerah saat diberi pakan hidup.

Berita Terkait : Nggak Berani ke Singapura

Masalah lainnya, waktu kuras aquarium jadi lebih cepat dibanding ikan mengkonsumsi pakan hidup. Karena pakan olahan menggunakan zat pewarna, air aquarium jadi lebih cepat kotor. Selain itu kotoran yang dikeluarkan ikan juga jadi lebih banyak.

Kondisi ini bukan saya saja yang mengalami. Kawan-kawan pehobi ternak ikan yang tinggal di daerah lain mengalami hal sama. Walaupun daerahnya tidak turun hujan setiap hari, tapi kalau jumlah produksi ncuk dan kutu air memang menurun saat musim hujan. Sebaliknya, jika musim panas tiba, dua komoditas ini akan sangat mudah dijumpai di selokan.

Novalliandy, Wartawan Rakyat Merdeka