Corona Oh Corona

Ngopi - Corona Oh Corona
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Corona oh corona. Namamu menjadi buah bibir belakangan ini. Bahkan, saat engkau belum tiba di negaraku. Begitu engkau tiba, masyarakat kebingungan. Takut. Khawatir. Serba salah.

Sampai akhir Februari, banyak yang bertanya, heran, penasaran, bahkan nggak percaya jika virus bernama Covid-19 ini belum ada di Indonesia. Baik dari negara lain, maupun warga negara sendiri. Secara, banyak seliweran warga negara China di Indonesia. Atau anggapan apa pun saat itu.

Joke yang beredar pun beragam. Misalnya, corona nggak mungkin hinggap di tubuh orang Indonesia. Karena imunnya kebal. Sering makan boraks, formalin, plastik, dan lain sebagainya. Tapi, saat virusnya bener ada, semua panik.

Berita Terkait : Ska Ala Opera China

Senin (2/3), Pemerintah mengumumkan dua orang Indonesia positif corona. Keduanya warga Depok, Jawa Barat. Di hari itu juga, Depok tenar. Namanya beredar di dunia. Lewat jagat maya. Jadi tranding topic di Twitter. Jadi bahan bully-an. Kebetulan, saya tinggal di Depok. Bingung mau bilang apa.

Hari itu, saya di kantor. Panik sih nggak terlalu, cuma mau ngeliat keadaan orang rumah. Jam 3 sore saya pulang. Belum waktunya jam pulang kerja. Tapi sepanjang Jalan Pondok Indah sampai Cinere, padat. Pas melintas di Cinere Mall, lebih kaget lagi. Banyak mobil yang di dalamnya ngangkut mie instan berkardus-kardus.

Masker pun mendadak langka. Sekali pun ada, harganya berlipat ratusan persen. Banyak yang nimbun. Harga bumbu dapur layaknya hidangan di hotel bintang lima. Melonjak. Semua panic buying. Nggak lama, banyak imbauan jangan panik. Mulai dari pemerintah, sampai ke level RT.

Berita Terkait : Ajak Anak ke Tempat Umum, Jangan Panik!

Jumat (6/3) saya ke masjid, Jumatan. Khatibnya update info. Bahas wabah. Beliau menjelaskan kisah Khalifah Umar Bin Khatab ke Syam. Saat itu, ada wabah. Bisa dibilang saat ini kolera. Umar bimbang, apa yang mesti dilakukannya.

Singkat cerita, ada Abdurrahman bin Auf datang. "Saya tahu tentang masalah ini. Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda. 'Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya," terang Abdurrahman.

Kesimpulan khutbahnya, mengimbau kita tidak perlu panik. Karena segala sesuatu kehendak Allah. Sebagai hamba, kita hanya bisa ikhtiar dan menyerahkan diri kepada Allah. Kita juga harus optimis ke pemerintah bisa nyelesain persoalan ini.

Berita Terkait : Gagal Nonton Konser Musisi Mancanegara

Nur Rochmannudin, Wartawan Rakyat Merdeka