Shampo

Catatan : WIDIA SAPUTRA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Saya mengamati tangan saat berkeramas. Ada berhelai-helai rambut rontok dalam buih-buih shampo, pun yang tumpah ke lantai kamar mandi. “Masya Alloh rontok,” saya menggumam.

Setelah selesai mandi, saya amati kepala ini yang sedang dikeringkan dengan handuk putih yang warnanya sudah memudar. Di situ saya juga menemukan helain uban yang tercerabut dari kepala. “Saya sudah tua. Ini alarm hidup,” batin saya membisik.

Berita Terkait : Impor Guru

Saat itu juga keheranan saya terjawab, mengapa dulu saya kerap dipanggil Mas, sekarang dipanggil Pak. Rupanya saya sudah tua. Terus terang ini membuat kepercayaan diri saya menurun. Apalagi kawan-kawan, dan saudara-saudara tak mirip saya. Ah, jangan-jangan saya tua sebelum waktunya.


Karib saya keturunan Arab bermarga Al Jufri menenangkan kegundahan saya. “Uban itu cahaya Mas orang muslim. Antum semakin berwibawa,” katanya. Lain lagi dengan pendapat ipar saya Kang Herman yang berprofesi tukang cukur.

Baca Juga : Meski Dalam Bentuk Aksi Damai, People Power Tetap Melanggar Hukum

Dia bilang, uban di kepala saya bukan melulu banyaknya pikiran, karena profesi saya sebagai kuli tinta. “Bisa jadi karena Shampo-nya nggak cocok Om,” kata ayah dua anak ini. Kang Herman menyarankan saya agar rutin keramas dengan sisa rendaman kacang hijau dan pantang mencabuti uban. “Memang baunya kurang enak, tapi mujarab loh,” ujarnya.

Beruntung, kepala saya nggak sampai botak. Tapi saya terhasut omongan Kang Herman. Jangan-jangan benar karena shampo. Kata pakar rambut iklan shampo di televisi, jenis rambut pria, wanita, dewasa dan anak-anak itu beda. Sebaiknya dibedakan.

Baca Juga : Menpora Minta PB Persani Fokus Olimpiade 2020

Tapi di iklan-iklan shampo itu selalu mempromosikan keunggulannya masing-masing. Dari yang mencegah rambut rontok sampai membuat mahkota kepala manusia itu berkilau. Semprul. Tidak begitu nyatanya.
 Selanjutnya 

RM Video