Unfollow Hoaks

Ngopi - Unfollow Hoaks
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Belakangan saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Termasuk untuk tugas liputan. Beruntung narasumber utama saya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyediakan siaran langsung konferensi pers melalui Youtube. Jadi, peliputan bisa dilakukan dari jauh.

Karena kegiatan konpers itu terukur, jadi saya ada banyak waktu luang. Saya manfaatkan untuk menonton Netflix. Ada satu film serial yang baru saja tayang, "Freud". Film ini bercerita tentang pendiri aliran Psikoanalisis, Sigmund Freud. Teori utamanya, segala tindak tanduk utama manusia karena dorongan seksual. 

Tapi film ini bercerita awal aliran itu berkembang. Diceritakan dia memulai karier sebagai psikiater di Wina, Austria. Dia mengembangkan terapi hipnotis untuk menyembuhkan penyakit psikis. Namun, Freud sendiri tidak ahli melakukan hipnotis. Sehingga, dia membuat skenario dibantu Lenore, pengurus rumahnya. 

Berita Terkait : Latah Lockdown

Dalam aktingnya itu, Lenore berpura-pura bisu. Hal itu disebabkan kematian putrinya, Josephine 30 tahun lalu, karena tertabrak kereta kuda. Saat itu, suara Lenore gagal menyelamatkan Josephine. Skenario ini yang akan dipresentasikan di hadapan para profesor.

Mereka berlatih skenario ini setidaknya 70 kali. Sehari sebelum presentasi, mereka melakukan gladi. Tibalah saatnya, pendulum bergerak. Lenore memainkan perannya. Tapi, yang terjadi sebaliknya. Lenore malah bisu betulan. Walaupun sesaat. Kegagalan ini menjadi bahan tertawaan.

Namun, Freud justru berkesimpulan. Pelatihan yang terus berulang itulah yang membuat akting mereka gagal. Lenore justru meyakini bahwa dia bisu betulan.

Berita Terkait : Corona Bikin Merana

Bagi saya, cerita ini relevan dengan situasi sekarang. Membanjirnya informasi tentang Covid-19 merasuk ke kesadaran. Terutama hoaks. Tidak ada yang positif dari berita hoaks. Semua menceritakan pesimisme. Seperti Lenore dalam cerita Freud, karena terus-terus menerus disampaikan, hoaks ini dianggap benar. Sehingga, menyulut kepanikan. Plus, kebencian.

Makanya, daripada termakan hoaks, jauh-jauh hari saya tidak lagi mau membuka sembarang tautan. Terutama dari teman-teman yang sukanya sebar hoaks. Kalaupun terlanjur terbaca, saya yakini diri saya, itu kabar bohong. 

Tapi beruntung saya punya WhatsApp Group yang selalu berbagi kebaikan. Yang mengabarkan kesembuhan, bukan kematian. Memberikan optimisme di tengah wabah ini. Di jagad medsos pun saya sudah berhenti mengikuti akun teman yang suka menyebar hoaks. Melewati masa ini, yang saya butuhkan optismisme. Alhamdulillah, hari-hari berjalan baik.

Berita Terkait : Iri Sama Tiongkok

Semoga wabah ini cepat berlalu dan kita semua diberikan keselamatan melewatinya. Aamiin.

Marula Sardi, Wartawan Rakyat Merdeka