Takut Banana Politics

Catatan : ERWIN TAMSAL

RMco.id  Rakyat Merdeka - Markas pemenangan caleg DPRD milik teman saya di Jalan Raya Mauk, Kabupaten Tangerang, tak pernah sepi. Hari biasa, base camp berukuran 6 kali 5 meter persegi ini jadi tempat ngumpul timses.

Buat atur stategi pemenangan. Kalau weekend beda lagi. Suasananya semakin rame. Anak muda alias milenial di sekitar markas kumpul. Komunitas punk. Komunitas futsal pun sering nimbrung. Ngerumpi sampe malam. Macem-macem diomongin. Anak muda ngobrolin yang gaul. Pacar. Musik. Ada pula main gitar.

Akhir pekan kemarin, suasananya beda. Timses, anak muda, beberapa anak punk kumpul. Termasuk saya ikut berbaur. Ngomongnya ngalor-ngidul. Makin larut, menu obrolannya caleg. Ya, bahas caleg DPR, DPRD, DPD. Petahana alias incumbent.

Caleg senior. Muda atau milenial. Termasuk caleg perempuan. Rame banget. Ampe bingung. Puyeng. Mana yang mau dipilih rakyat.

Lama-lama, obrolan serius, jadi guyon. Just kidding. Tapi, tetap membahas caleg. Pokoknya seru. Kalau nggak rame, malam jadi basi. Kopi dan singkong goreng bisa jadi hambar disantapnya.

Banyak cerita menarik. Tapi, saya saring. Saya ambil yang ‘amannya’ saja. Takut ada caleg tersinggung. Takut ada caleg merasa dirugikan. Bisa-bisa, calon wakil rakyat pada komplain.

Dari sekian banyak obrolan, ada cerita menurut saya menarik. Lucu. Cerita dari seorang timses. Sebut saja namanya Enjang. Dia timses dari Desa Pakuhaji, Tangerang. Enjang menceritakan, seorang pedagang pisang jadi caleg DPRD Kabupaten di wilayah Sumatera.
 Selanjutnya 

RM Video