Cerita dari Vietnam

Ngopi - Cerita dari Vietnam
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ini cerita lama. Oktober 2010. Waktu saya ikut rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri KTT ASEAN di Hanoi Vietnam. Menjadi relevan diceritakan kembali karena keberhasilan Vietnam melawan Covid 19 tanpa angka kematian. 

Saat itu, perjalanan saya dimulai dari Jakarta, kemudian dua hari di Shanghai, China baru ke Hanoi, Vietnam. Di Vietnam kami tiba malam, hampir jam 7 malam dan langsung ke hotel yang masih anyar. 

Esok paginya, saya dipandu oleh staf kedutaan. Saya lupa namanya, tapi ingat ceritanya. Dia bercerita, bahwa Pemerintah Vietnam sangat sigap. Terutama soal kebersihan. “Coba besok pagi, kamu lihat keluar jendela hotel. Kamu akan saksikan ada mobil tangki air dan petugas yang mengepel aspal,” kata dia saat itu. Saya buktikan, memang betul jalanan di pel. 

Berita Terkait : Bisnis Makanan di Masa PSBB

Dia juga punya cerita lain. Katanya, ada pejabat Pemprov DKI yang berkunjung ke Vietnam. Kebetulan, bapak ini juga yang memandu. Kepada para pejabat itu dia bercerita tentang keseriusan pemerintah di sana menjaga kebersihan. Bahkan, mereka menyaksikan setiap hari tempat sampah di pinggir jalan dicuci. 

Selain bercerita tentang hebatnya Pemerintah Vietnam, dia juga bercerita soal warganya. “Kalian perhatikan orang Vietnam. Tidak ada yang gemuk. Kenapa? Ini pengalaman perang. Orang Vietnam memiliki kebiasaan sarapan pagi-pagi sekali dan makan malam sebelum matahari tenggelam.” 

Saya membenarkan. Sebab, saat tiba di hotel malam restoran sudah tutup. Kami pun hanya makan-makanan yang tersedia saat itu. Mie Vietnam. Karena kebiasaan warga Vietnam itulah, maka restoran hotel tidak siap menyambut kami yang biasa makan jam berapa pun saat lapar datang. 

Berita Terkait : Kondisi Penjaringan Motor di Simpang UI

Saya juga bertanya mengapa mereka melakukan itu? Alasannya karena strategi perang mereka melarang mereka gemuk. Mereka harus memilki lingkar pinggang yang lebih kecil dari tentara Amerika. Tujuannya untuk bisa masuk ke Tunnel Rat. Atau lubang tikus yang menjadi kunci kemenangan mereka. 

Kepatuhan warga Vietnam terhadap pemerintah juga terlihat saat mereka berkendara. Di Hanoi ada pembatasan kecepatan kendaraan. Makanya tidak ada yang mengebut. Semua patuh. 

Makanya, saya tidak heran kalau Vietnam mendeklarasikan kemenangan lebih cepat di banding negara lain dalam perang melawan Covid-19. Pemerintah mereka sigap, warga pun rela mewakafkan diri mereka untuk negara. 

Berita Terkait : Kembang Turi Putih

Makanya saya berpendapat, membandingkan Vietnam dengan Indonesia dalam menangani Covid-19 tidak Apple to Apple. Kalau di sini, urusan ekonomi sebagian warga memuji pemerintah komunisme. Mengandalkan negara untuk mengisi perut. Tapi urusan mulut, berideologi liberal. Kebebasan berbicara di atas segala-galanya.

Marula Sardi, Wartawan Rakyat Merdeka