Ngopi - Kangen Lombok
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Maraknya wabah corona membuat segala aktivitas masyarakat jadi dibatasi. Beberapa bulan ini, banyak orang, termasuk saya, hampir selalu ada di rumah. 

Satu atau dua bulan pertama mungkin masih oke, karena banyak cara untuk mengisi waktu. Tapi, lama-lama akhirnya jenuh juga, meski sebetulnya banyak kegiatan yang dilakukan di rumah. Akibatnya, saya jadi kangen untuk liburan ke luar kota. Apalagi kali ini kemungkinan tidak ada edisi khusus Lebaran, sehingga ada lebih banyak waktu libur.

Tapi, itu hanya angan. Karena selain dilarang oleh pemerintah, saya pun khawatir akan terinfeksi corona. Alhasil, saya cuma bisa melihat foto-foto liburan saya yang lama. Di antara foto yang saya lihat, foto waktu di Lombok adalah yang paling saya minati.

Berita Terkait : Pagi Siang Sore Tobat, Malam Dangdutan

Saya ke Lombok itu pada Mei 2016, dalam rangka mendaki Gunung Rinjani. Saat itu, saya ikut open trip bersama dua orang sahabat, Robi dan Yudha. Rencananya, pendakian Gunung Rinjani itu berlangsung selama 4 hari 4 malam.

Rute yang kami tempuh itu naik dari Sembalun, sementara turunnya lewat Senaru. Sebetulnya, tidak ada rencana untuk nge-camp di Kawasan Senaru. Pada hari ke-4, setelah mendaki ke Pelawangan Senaru dari Segara Anak, rencananya kami langsung turun ke base camp.

Tapi, karena ada Nita dan saya cedera, kami pun terpaksa mendirikan tenda di pos 3 Senaru. Besok paginya, baru turun ke base camp. Akibatnya, rencana liburan yang sudah di susun pun berantakan. 

Berita Terkait : Ngabuburit Malah Diburu Anjing...

Rencana awalnya, setelah turun gunung itu, besoknya kami akan ke curug yang berada di Kawasan Senaru. Sementara, untuk hari berikutnya (hari ke-6), kami bermaksud pergi ke Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Karena kebetulan ketiga tempat itu saling berdekatan. Saya pun sudah sengaja ambil cuti 6 hari, dan pulang dengan pesawat malam supaya bisa sempat mengunjungi objek wisata tersebut.

Sayangnya, cedera saya dan kelelahan ekstra membuat kami terpaksa membatalkan rencana tersebut. Akhirnya, hari ke-6 hanya kami habiskan di hotel, sebelum pulang pada malam harinya. Yang lebih disesalkan adalah, pada 2018 ketiga tempat tersebut mengalami kerusakan akibat gempa.

Entah seperti apa kondisi saat ini setelah dipulihkan Pemprov NTB. Tapi yang pasti, Lombok tetap sangat layak untuk dikunjungi, karena ada berbagai objek wisata pantai lainnya. Semoga saja pandemi corona bisa segera berakhir, supaya bisa punya kesempatan ke sana lagi.

Berita Terkait : Cerita dari Vietnam

Nanda Prananda, Wartawan Rakyat Merdeka