Sunan Kali Jaga

Catatan : MELLANI EKA MAHAYANA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hujan hadir tanpa jadwal tetap. Dia datang dan pergi sesukanya. Ingat saat pelajaran ilmu alam masa sekolah dasar, guru mengingatkan murid-murid pada Oktober hingga Maret kudu sedia payung dalam tas.

Hari mau hujan. Pepatahnya: sedia payung sebelum hujan. Cuma, sekarang kami beda memaknai. Bukan sedia payung. Tapi memastikan, pompa air masih prima. Meski benda mati.

Berita Terkait : Pertahankan Kualitas, Tatalogam Pede Pasarkan Baja Ber-SNI

Fungsinya menyelamatkan kompleks dari banjir. Tugasnya mengalirkan dan mendorong air ke selokan utama agar mempercepat surutnya genangan. Kawasan perumahan kami rawan banjir. Bekas sawah yang dibangun perumahan.

Tapi tampaknya tak tuntas soal saluran airnya. Kabarnya developer ada masalah juga dengan tetangga sekitar areal kompleks. Sebelumnya dengar kabar, kompleks mau dua gerbang. Sekarang akhirnya jadi satu saja.

Baca Juga : Ronaldo 700 Gol, Portugal Masih Tertahan

Dari 70 rumah yang ada, blok A dan B terancam banjir. Bekas sawah sesuai nama kelurahannya Sawah Lama. Dulunya air masuk ke sawah. Kini masuk rumah. Karena itu jalannya. Yang Blok D dan C tidak banjir tapi akses mereka tertutup air.

Sama aja jadi masalah. Pompa itu inisiatif warga. Kami beli empat. Dua pompa listrik. Dipasang di blok A. Dua lagi di blok B. Pompa yang pake listrik. Sedangkan satunya lagi pompa diesel. Berbahan bakar bensin lima liter. Tak cukup alat saja.
 Selanjutnya 

RM Video