Thank You, Manis..

Ngopi - Thank You, Manis..
Catatan : DAUD FADILLAH

RMco.id  Rakyat Merdeka - “Ayo Mas, masuk kamar mandi. Lihat ini,” ajak Bu Tun kepada saya. Saya pun melangkah ke kamar mandi, mengikuti ajakannya. Saya deg-degan. Sebab, setelah bertahun-tahun mengenalnya, baru kali ini, dia mengajak saya masuk ke kamar mandi.

Tapi, istri saya yang sedang sibuk memasak di dapur, cuma mesam-mesem doang melihat saya mengikuti ajakan tetangga kami yang Juru Pemantau Jentik (Jumantik) tingkat RW itu.

Benar saja, bermodalkan senter di HP-nya, Bu Tun menunjukkan kepada saya jentik-jentik nyamuk yang sedang ugat-uget di bak mandi. “Nah, ini dia jentik-jentiknya,” ucap Bu Tun.

Baca Juga : Indonesia Genjot Kunjungan Wisman dari Prancis

Saya tambah deg-degan. Pikiran saya langsung teringat tiga tetangga kami yang Januari lalu terkena demam berdarah dengue (DBD). Dua pelajar SMP dan satu ibu rumah tangga.

Bahkan, pikiran saya mundur ke tahun 2015, saat seorang tetangga beda RW, meninggal setelah terkena DBD. Saya pun ngeri keluarga kami jadi korban berikutnya.

Bu Tun pun menyarankan kepada saya untuk sering-sering menguras bak mandi. “Dua hari sekali, Mas,” ucapnya. Saya manggut-manggut saja, malas berdebat. Meski sebenarnya, tanpa saran itu pun, kami sudah sering menguras bak mandi.

Baca Juga : Sofyan Djalil: Omnibus Law Jalan Keluar Penciptaan Lapangan Kerja

Bahkan, dua hari sebelum penemuan jentik itu, istri saya baru saja mengurasnya. Apa iya kami harus menguras bak mandi setiap hari. Kalau begitu, capek deh...

Singkat cerita, akhirnya kami memilih cara lama yang alami untuk membasmi jentik nyamuk. Yakni, menaruh ikan hias di bak mandi.

Berdasarkan saran dari seorang tukang ikan di Pusat Ikan Hias Radio Dalam, Jakarta Selatan, sebaiknya kami membeli ikan kecil yang bisa hidup tanpa alat gelembung oksigen, tidak bau amis, makannya jentik nyamuk saja, sehingga kotorannya sangat sedikit.
 Selanjutnya