Ngopi - Yang Goloknya Paling Panjang Jadi Jagal
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di Idul Adha lalu, meski di tengah Pandemi Corona, niatan warga yang ingin berkurban di kompleks rumah tinggal saya, masih terbilang tinggi. Ada 8 kambing yang siap disembelih. Memang, sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, dua sapi dan enam kambing. Tapi, tidak masalah, yang penting masih ada warga yang mau menyisihkan hartanya untuk berkurban.

Layaknya tahun-tahun sebelumnya, penyembelihan hewan kurban dilakukan usai Salat Idul Adha. Jagal hewan juga sudah dihubungi sejak jauh-jauh hari. Takut tidak kebagian jagal. Bisa gawat kalau sampai kehabisan.

Usai Salat Idul Adha, seluruh hewan yang akan disembelih sudah siap di sekitar musola. Satu lubang galian berukuran besar untuk menampung darah telah disiapkan. Sayangnya, jagal terkena musibah. Tangan kanannya keseleo. Parah. Sulit digerakkan. Jatuh saat dalam perjalanan ke tempat kami. "Jatuh dari motor waktu mau jalan ke sini," ujar tukang jagal sambil terus memicingkan matanya sebagai tanda kesakitan.

Berita Terkait : Kangen ke Pesta Batak

Warga bingung mencari penggantinya. Pasalnya, sulit mencari jagal lain. Apalagi waktunya mepet. Mereka sama-sama sibuk di hari itu. Di tengah kebingungan, ada salah satu warga yang punya ide. Siapa yang punya golok paling besar akan didaulat sebagai jagal.

Akhirnya ketemu. Namanya Rudi. Salah satu tetangga saya. Dia membawa golok berukuran besar. Panjangnya hampir 40 centimeter. Paling besar dibanding golok warga lainya. Hanya saja, dia tidak punya pengalaman menyembelih hewan kurban sebelumnya.

Karena terpaksa, Rudi akhirnya memberanikan diri. Tapi, sebelum menyembelih, dia meminta waktu sebentar untuk belajar. "Saya buka Youtube dulu ya," izin Rudi kepada warga yang hadir.

Berita Terkait : Jangan Menyerah Dokter

Warga pun menyetujuinya. Tak lupa, Rudi diingatkan agar bisa menyembelih hewan kurban secara benar. Bila tidak, daging kurban akan bau. "Soalnya banyak jagal yang belum tahu soal itu," celetuk warga

Tak lama kemudian, dua orang bersiap-siap memegang kambing pertama. Kambing pun dirobohkan di lobang yang tersedia. Rudi telah bersiap-siap dengan goloknya yang tajam. Dengan sekali tebas, leher kambing robek cukup dalam. Darah mengucur deras ke dalam lobang. Rudi akhirnya bisa bernapas lega karena berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik."Yang penting, daging kambing tidak terlalu bau," kata dia

Tak cuma satu, tujuh kambing sisanya juga berhasil disembelih dengan baik. Tidak ada bau daging kambing yang biasanya menyengat. Apa rahasianya? "Saat kambing menarik napas, langsung digorok agar darah langsung mengalir keluar secara deras," jawab Rudi.

Berita Terkait : Beras Covid-19

Ahmad Lathif Rosyidi, Wartawan Rakyat Merdeka