Ngopi - Membayangkan Pimpin Perusahaan Saat Pandemi
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pandemi Covid-19 bikin semua susah. Ekonomi juga sulit. Tak cuma perusahaan swasta, menurut data Kementerian BUMN, 90 persen perusahaan pelat merah juga kena imbas pandemi ini. Covid-19 memberikan efek domino.

Dengan kondisi ini, selain pengusaha, banyak karyawan juga akhirnya jadi susah akibat di-PHK. Pengusaha susah para karyawan ikut susah. Tapi ukuran kesulitan mereka yang berbeda-beda. Sekelas pengusaha besar dan pengusaha kecil juga pasti beragam ukuran susahnya.

Jika pengusaha sampai menghentikan roda bisnisnya, maka nasib paling parah dirasakan karyawan. Para pengusaha besar untuk sekadar bertahan hidup tentu masih bisa. Mengingat kondisi finansial mereka amat sangat mencukupi. Tapi, bagaimana nasib karyawannya? Mayoritas karyawan hanya bergantung dari penghasilan bulanan.

Berita Terkait : Nggak Kapok Berdagang

Meski waswas memikirkan kenyataan, di sisi lain terlintas membayangkan jika suatu saat menjadi pimpinan yang memiliki banyak pegawai di kondisi seperti sekarang. Tentunya amat berat.

Dari berbagai literasi yang saya pahami, untuk menghadapi kondisi begini, khususnya bagi perusahaan besar, peran HRD ataupun manajer, sangat dibutuhkan. Manajer perlu menyediakan saluran komunikasi yang lancar kepada karyawan. Sehingga beban berat tidak hanya dirasa pimpinan perusahaan, tapi juga dipahami seluruh karyawannya.

Hubungan pengusaha dengan karyawannya diikat aturan internal manajemen dan undang-undang. Bahkan, dalam aturan Allah SWT. Perlu ada keterbukaan serta komunikasi yang sehat untuk saling memahami. Bahkan, alangkah baiknya perusahaan dapat merundingkan langkah apa saja yang terbaik bagi karyawan dan perusahaannya dalam menghadapi kondisi memprihatinkan ini. Diharapkan, karyawan memahami dan tidak kaget kalau ada keputusan terburuk yang diterima.

Berita Terkait : Kangen ke Pesta Batak

Tidak ada yang bisa memastikan kapan wabah ini akan berakhir. Selama wabah belum berujung, niscaya kondisi perekonomian belum akan kembali normal. Perlu dilakukan pengecekan mendalam terhadap kondisi keuangan bisnis. Para pengusaha tentu sudah menghitung berapa besar tingkat likuiditas usaha, sampai berapa lama akan bertahan menghidupi bisnis dalam situasi susah pemasukan?

Idealnya, perusahaan perlu memiliki cash on hand untuk operasional 12 bulan ke depan. Bila kurang dari itu, perlu memikirkan pengamanan likuiditas agar bisa mempertahankan bisnis di tengah krisis corona ini.

Fajar El Pradianto, Wartawan Rakyat Merdeka