Ngopi - Nggak Kapok Berdagang
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sedari kecil nggak pernah kepikiran untuk berdagang. Soalnya, dipikiran saya, orang dagang itu harus ulet, harus cerewet, harus supel dan harus tahan banting, tahan malu kalau dagangannya nggak dilirik orang. 

Tapi, kalau saya runut-runut lagi ke masa kecil. Saya pernah ikut bapak kerja, waktu saya masih SD. Beliau aktif ngurus koperasi. Waktu itu saya bantu jualin beras. Kata Bapak, “Kalau naker (takar) beras, harus benar. Jangan kurang sedikit pun. Nanti, dosa”. Dinasehati begitu, saya kecut. 

Dalam hati, sepertinya, terucap “Huft, nggak bakalan deh jualan, daripada dianggap nggak jujur.” Akhirnya, sampai SMA, saya iseng jualan produk kecantikan. Bukan tergiur sama keuntungan yang didapat. Tapi, memang lagi happening (marak) aja waktu itu. Plus, nggak tega nolak. 

Berita Terkait : Gagal Nonton KonserBareng Mas Kristanto

Saya beli starter kit parfum, ukuran 3 atau 5 mili. Hanya untuk tester ke calon pembeli. Tapi karena saya anaknya kuper alias kurang pergaulan, saya tawarin katalog make up dan tester itu ke tetangga yang buka warung kelontong dan ke tukang mie ayam. Hasilnya, nihil. Ujung-ujungnya, beberapa produk seperti lipstik dan bedak, dipakai ibu. 

Saya sendiri ogah memakai riasan. Yaa.. Gimana mau laku ya, kalau saya sendiri nggak pakai produk-produk itu untuk mempresentasikan hasilnya ke orang-orang. Hehe.. 

Akhirnya, jualan produk kecantikan, saya tinggalkan. Lucunya, setelah kuliah, kakak saya malah menjual produk-produk itu. 

Berita Terkait : Membayangkan Pimpin Perusahaan Saat Pandemi

Tiga tahun lalu, lagi-lagi saya coba berdagang. Modal awal hampir Rp 20 juta. Patungan dengan kakak, adik dan paman. Kami sewa ruko, jualan Sroto Ayam khas Sukorejo. Mirip soto, bedanya, dicampur kacang ulek di kuahnya. 

Konsep warungnya, biar lebih menarik, tidak hanya jualan Sroto, ada juga menu Mie Ramen. Agak tabrakan ya kedua menu itu. Satu, selera orang tua banget. Satunya, lagi booming buat remaja. Harapannya, yang makan di warung kami, nggak cuma orang tua, tapi, sekeluarga bisa makan bersama di warung sederhana. 

Sekali-kali, saya ikut nungguin warung, ikut masak, dan ikut melayani pengunjung. Rasanya menyenangkan. Kadang, saya sambil ngetik berita di warung. Tapi sayang. Lagi-lagi, usaha berdagang saya gagal. Hanya bertahan delapan bulan. Sewa ruko nggak bisa dilanjut gara-gara warung sepi pembeli. 

Berita Terkait : Kangen ke Pesta Batak

Kini, di tengah pandemi banyak orang cemas kehilangan pekerjaan. Usaha apapun, dilakoni. Demi, mendapat penghasilan tambahan. Boro-boro nambah, yang ada buat nambal pendapatan yang dikurangi. Makanya, cari celah, lewat berdagang. 

Hampir delapan bulan ini, saya gabung usaha sama adik. Mulai dari sewa backdrop untuk nikahan, terima jasa hias dan sewa hantaran nikahan, daster kece untuk ibu-ibu menyusui. Terakhir, saya bela-belain beli gaun pengantin yang lagi promo di salah satu butik di Tebet, Jakarta Selatan.

Irma YuliaWartawan Rakyat Merdeka