Ngopi - Sibuk Rawat Isabella
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Akibat kelamaan di rumah, saya mulai mencari hobi baru. Dulu, saya tidak begitu suka dengan hewan peliharaan. Makanya, pas adik saya bilang mau adopsi kucing temannya, saya rada malas dan sempat cari alasan apa aja biar niat dia batal.
 
Kenapa saya nggak begitu suka ada hewan peliharaan di rumah? Simple sih, karena nggak mau repot bersihin kandang, merawat dengan makanan sehat, sama satu lagi harus rajin bersih-bersih rumah. Yang pernah saya baca, kucing kalau tidak bersih punya potensi menyebarkan penyakit ke manusia, mulai dari infeksi bakteri kucing berkutu (toxoplasma) sampai cacing (scabies). 
 
Tapi, tekad adik saya mengadopsi kucing sepertinya sudah sangat bulat. Dia bahkan ngaku, dengan atau tanpa persetujuan saya pun, tetap akan mengadopsi kucing itu. 
 
Seminggu kemudian, tiba-tiba dia pulang sambil bawa kandang beserta kucingnya. Saya kaget, mau menolak tapi gimana lagi. Akhirnya saya pasrah. Kucing ini merupakan ras antara kucing anggora dan persia. Tapi, perlu saya akui, kucing ini cukup lucu dan menggemaskan juga.
 
Baru sehari di rumah, saya langsung berpikir, yah harus bersih-bersih deh, nanti kalau dia poop gimana? Bisa bau deh isi rumah. Ternyata, kucing ini sudah dibiasakan di rumah adopsinya dulu kalau pipis dan poop langsung ke belakang sendiri, ke tempat khusus poop yang sudah dikasih pasir khusus. Awalnya, saya nggak percaya. Ternyata bener juga, tiba-tiba dia ke belakang dan langsung poop di pasar yang sudah kami siapkan.
 
Bukan cuma itu, kucing yang belum punya nama ini juga maunya nempel-nempel minta dielus sama semua penghuni rumah. Bulunya pun lembut dan wangi, karena memang dia dirawat oleh pemilik sebelumnya. Sedikit demi sedikit saya jadi tergugah hatinya, kayaknya mulai jatuh cinta.
 
Kucing ini punya bulu yang cukup lebat, warnanya perpaduan putih dan abu-abu. Buntutnya pendek tapi lebat. Karena saya mulai suka, akhirnya kami berdebat buat kasih nama. Ayah saya punya usul nama kucingnya Putri, adik saya maunya diberi nama Nami. Dan saya punya pilihan nama Isabella. Hahahaha... agak alay tapi nggak apa-apa.
 
Semua keluarga pun setuju nama yang saya ajukan. Diputuskanlah nama kucing itu Isabella. Lucunya, setiap manggil nama dia, kita selalu nyanyi lagu pop Melayu yang judulnya Isabella. 
 
Yah, gitu deh ceritanya, meskipun PSBB nambah lagi, setidaknya saya di rumah punya kesibukan baru, biar nggak bosen lagi gara-gara nggak boleh keluar rumah. Ya, merawat si Isabella agar tumbuh sehat dan cerdas. Saya punya resep sendiri merawat kucing harus penuh dengan kehangatan dan santai aja nggak perlu heboh apalagi stres, meskipun dia kadang bertingkah over active.

Berita Terkait : Segera Bergerak Selagi Hayat Dikandung Badan

Dwi Ilhami, Wartawan Rakyat Merdeka