Ngopi - Perketat Jam Malam Di Kampung-kampung
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sudah beberapa hari ini aktivitas di Jalan Raya Margonda, Kota Depok, Jawa Barat, tidak seramai biasanya. Angkot-angkot sepi penumpang, ojol jarang yang mangkal, toko-toko tutup, serta lalu lintas kendaraan renggang. 

Sepinya ruas Jalan Raya Margonda ini disebabkan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat dan usaha yang dilakukan Pemkot setempat. Istilah seremnya sih: jam malam. Aturan jam malam diberlakukan karena angka infeksi Covid-19 di kota belimbing ini meroket. Keganasan virus ini bahkan sampai menulari istri Wali Kota Depok, M Idris

Berita Terkait : Kecanduan Produk Skincare di TikTok

Di satu sisi, aturan jam malam ini cukup bagus. Aturan ini mampu meminimalisir terjadinya kerumunan massa. Khususnya di berbagai pusat perekonomian. Sifat memaksa dalam aturan ini juga cukup tegas karena ada sanksi bagi para pelanggar. Mulai dari teguran hingga denda puluhan juta rupiah. Tapi, harus saya akui seperti ada yang janggal. Ya, tingkat kepatuhan masyarakat dan pelaku usaha terhadap aturan ini belum maksimal. 

Pelaku ekonomi dan masyarakat hanya patuh di jalan-jalan besar. Seperti Jalan Raya Margonda, Kartini dan Jakarta-Bogor. Aturan jam malam tidak begitu ‘ngefek’ di tingkat kampung. Sepanjang pengamatan, di tingkat kampung masih banyak masyarakat yang melakukan kumpul-kumpul, warung-warung kuliner pun banyak yang buka hingga larut, dan sebagainya. 

Berita Terkait : Lupakan Corona dengan Mayoran dan Ngaliwet

Berbicara jam malam, saya jadi ingat sebuah film besutan Usmar Ismail. Seingat saya Maestro sineas Indonesia itu pernah menyutradarai film Lewat Djam Malam. Film ini mengisahkan kondisi Indonesia yang baru secara de facto memproklamasikan kemerdekaannya dari Belanda. Meski Begitu, tentara Belanda masih berusaha menguasai keadaan dengan menyelenggarakan jam malam di Kota Bandung. 

Di masa itu, seorang pria bernama Iskandar (diperankan oleh A.N. Alcaff) memutuskan untuk meninggalkan dinas ketentaraannya dan memulai kehidupan baru sebagai penduduk sipil. Setelah menjadi warga biasa, Iskandar menemui banyak praktik lancung. Salah satunya dilakukan mantan atasannya, Gunawan. Gunawan yang dikisahkan menjadi seorang kontraktor perusahaan selalu melakukan korupsi dalam setiap pekerjaannya. 

Berita Terkait : Jokowi Trending Topic

Singkat cerita, Iskandar yang merasa jerih payah perjuangannya dinodai praktik lancung, menculik Gunawan dan tidak sengaja menembaknya. Terkejut oleh tindakannya sendiri, Iskandar bingung dan mencoba kabur ke rumah kekasihnya: Norma. Dia lupa bahwa aturan jam malam telah diberlakukan tetapkan. Akibatnya, di tengah pelariannya dia ditembak oleh pasukan jaga jam malam. Dia tewas di depan rumah Norma. 

Dari film ini, saya mendapat gambaran bahwa aturan jam malam ternyata lebih ketat di era Belanda. Siapa pun akan ditindak bila melanggar aturan. Tidak peduli pejabat, tentara, mantan tentara, pelaku usaha dan sebagainya. Di masa pandemi ini, penerapan jam malam idealnya memang tidak terlalu kaku. Namun, tidak adanya penegakan hukum juga tidak boleh. Apalagi tebang pilih. Aturan tetaplah aturan. Apalagi musuh kita adalah virus berbahaya. Jangan sampai aturan hanya dibuat untuk mencari popularitas. Terlebih di masa pilkada.
 
Susilo Yekti, Wartawan Rakyat Merdeka