Ngopi - Corona Makin Dekat
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pandemi Virus Corona semakin dekat. Tidak hanya diwartakan media massa atau tulisan di media sosial. Tapi sudah hinggap ke tetangga, yang terpisah beberapa rumah saja. Isolasi mandiri dilakukan setelah beberapa hari melakukan perawatan di rumah sakit. Kemanusiaan sedang diuji.

Ini gambaran tentang suasana tempat tinggal saya di Tangerang. Perlahan tapi pasti, virus asal Wuhan ini sampai juga di dekat saya tinggal, bersama keluarga. Saya yakin, mereka yang tetangganya kena Corona, satu frekuensi dengan saya.

Ceritanya begini, tetangga saya yang kena virus ini adalah seorang bapak, yang tertular selepas menikahkan anaknya di sebuah gedung olahraga. Begitu di-tracking, salah satu anaknya dinyatakan positif.

Berita Terkait : Belajar Beternak Kelinci

Dirawatlah mereka di rumah sakit. Si bapak cerita melalui ponsel. Katanya, istri dia merasa dikucilkan. Dijauhi dari kelompok emak-emak. Dia begitu yakin, sang istri tidak tertular. Jadi, suaminya ini memohon kepada warga untuk bersikap seperti biasa.

Hari berlalu, si bapak yang kena Corona ini pulang. Dia isolasi mandiri di rumahnya. Kebetulan rumahnya dua lantai. Lantai atas untuk dirinya dan sang anak. Keluarga lainnya di bawah. Dari si bapak dirawat hingga pulang, katanya sih tidak ada yang mencoba menenangkan istrinya.

Tapi, saya yakin, kegalauan si istri hilang ketika suaminya pulang ke rumah. Melanjutkan kehidupan di rumah aja. Aneh memang, di situasi ini justru yang sakit meminta untuk menenangkan istrinya, yang sehat tapi dikucilkan.

Berita Terkait : Suka Duka WFH

Belakangan kondisi membaik, warga berbisik dan kompak untuk memberikan perhatian. Pun, kebutuhan selama menjalani isolasi mandiri. Perhatian bukan menjenguk langsung, tapi melalui ponsel. Bisa bicara, mungkin juga video call-an.

Nah, dari kisah ini, saya kira tidak berlebihan jika saya menyebut Corona semakin dekat. Ujian pun bertambah. Tidak hanya waspada kepada virusnya tapi manusia yang dihinggapi virus. Sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan, virus itu bertahan hidup di tubuh manusia. Pun, manusia bertahan hidup dari virus yang mematikan. 

Di sinilah kemanusiaan diuji. Tidak lagi merundung mereka yang terpapar Corona. Sekalipun yang terpapar itu awalnya abai dengan protokol kesehatan. Saya yakin, mereka yang abai menyesal saat terpapar.

Berita Terkait : Kecanduan Produk Skincare di TikTok

Nah, yang tidak terpapar ini sebaiknya menyemangati, juga meningkatkan kewaspadaan agar pageblug ini tidak menyebar. Minimal, tidak hinggap di tubuh-tubuh para tetangga kita. Juga kita sendiri.

Urusan psikologis juga penting buat pemulihan. Hanya sekadar menyapa melalui ponsel dan memberikan semangat, itu sangat berarti buat mereka yang tengah berjuang melawan virus di dalam tubuhnya. Semoga wabah ini cepat berlalu. Aamiin.

Boy Sakti Hapsoro, Wartawan Rakyat Merdeka