Ngopi - Ngeri Melayat
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dari dulu, saya termasuk orang yang 'hobi' melayat orang meninggal. Baik itu keluarga, teman, maupun keluarganya teman. Namun, hobi saya ini mulai terkontraksi, seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa pandemi Virus Corona ini.

Dalam enam bulan terakhir, hampir semua momen melayat saya lewatkan. Ada yang karena kebetulan sedang berhalangan, ada juga yang sengaja saya tidak mau hadir, karena meninggalnya terindikasi Covid-19

Bahkan ada beberapa kerabat yang keluarganya meninggal juga melarang saya datang, dengan alasan menghindari kerumunan demi memutus penularan Virus Corona.

Berita Terkait : Sekolah Mulai Dibuka

Memang, sejak wabah Corona mulai menyerang Indonesia pada awal Maret lalu, kehidupan masyarakat juga berubah drastis. Tidak terkecuali soal urusan melayat dan pemakaman. 

Kalau dulu, pemakaman orang meninggal bisa diikuti puluhan hingga ratusan orang, baik kerabat maupun kawan. Saat ini, kalau ada orang meninggal, yang melayat dan mengantarkan ke penguburan bisa dihitung jari.

Saat melayat, mereka juga tidak berlama-lama kumpul di rumah keluarga yang berduka. Hanya sekadar 'setor muka' lalu buru-buru pamitan. Orang juga kian ogah ikut ke pemakaman, apalagi kalau meninggalnya di rumah sakit, walau tidak terindikasi Covid-19.

Berita Terkait : Kangen Nonton Bioskop

Sampai ke soal takziah atau pengajian memperingati tiga hari atau tujuh hari orang meninggal. Saat ini, hampir setiap yang meninggal, keluarganya tidak menggelar takziah. Kalaupun ada, hanya keluarga inti, tanpa melibatkan tetangga.

Semua ini dilakukan demi memutus rantai penularan Virus Corona. Semoga wabah ini segera berakhir agar kita bisa kembali bersilaturahmi tanpa rasa ketakutan.  Aamiin.

Novalliandy, Wartawan Rakyat Merdeka