Ngopi - Banyak Orang Gila
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wajar jika krisis atau gejolak ekonomi membuat orang menjadi stres. Begitu juga saat situasi resesi seperti saat ini. Jumlah orang stres atau gila yang berkeliaran di jalanan makin bertambah. 

Di lingkungan tempat saya tinggal setidaknya sudah tiga orang dilanda stres berat dan berperilaku seperti orang gila. Padahal sebelum pandemi mereka masih normal. 

Dimulai dari Tuan A. Dulu keluarganya punya usaha warung makan kecil-kecilan. Belakangan bangkrut. Sejak nggak punya kesibukan, Tuan Asuka duduk di depan rumah. Kemudian malah sering duduk di pinggir jalan. 

Kerjanya cuma melamun dari pagi, siang, sore, malam, hingga pagi lagi. Kalau sudah hujan baru dia menyingkir. Saya tanyakan soal Tuan Ake satpam perumahan. “Mau gimana lagi om, zaman sekarang kalau kita nggak kuat mental yah bisa gila,” jawab Amir, satpam perumahan. 

Berita Terkait : Motor Bebek Anti Maling

Untungnya Tuan Amasih ada rumah dan keluarga yang ngasih makan. Meski kerjanya cuma nongkrong tiap hari bajunya pasti ganti. Tetapi semakin hari perilakunya semakin miris. Mulai dari ngomong sama ayam dan kucing, hingga ngomong sama sandal sendiri. Orang yang melihat jadi takut. 

Lanjut ke Bapak B. Setau saya dulu beliau sering mangkal di kios es kelapa muda. Kadang ngangkat-ngangkat batok kelapa yang mau dibuang. Sekarang kios es kelapa mudanya sudah tutup. Nggak tau pindah apa bangkrut. Sejak itu Bapak B jadi suka jalan pagi. 

Awalnya saya dan beliau saling menyapa. Lama-kelamaan Bapak B malah tambah mencuringgakan. Dia mulai suka jalan pagi sambil goyang-goyang kepala sambil menyanyikan lagu nggak jelas. Saya perhatikan bajunya sekarang nggak pernah diganti. 

Parahnya, beliau sekarang keliling jalan kaki tiap pagi dan sore. Kadang pakai sandal, kadang nggak. Pernah juga pake sandal cuma sebelah. Meski hujan deras dan pakaian sudah basah kuyup pun beliau tetap santai jalan kaki sambil goyang-goyang kepala. Kasihan pokoknya. 

Berita Terkait : Hobi Bertanam Hidroponik

Lalu ada Ibu C. Setau saya dulu beliau orang biasa-biasa saja. Sekarang dia malah sering berpenampilan menor dengan bedak tebal dan lipstik merah menyala. Di pinggang dia selipkan dua kain panjang yang warnanya beda. 

Awalnya saya kira dia mau ngamen. Ternyata dia stres. Di pinggir jalan yang sedang padat merayap, beliau menjadi pusat perhatian pengendara motor. Seolah sadar panggung, beliau mulai menyanyi dan memainkan dua kain panjang tadi kayak penari ronggeng. 

Penonton pun menghindar. Ibu C tidak mau kehilangan panggung. Dia malah menari ke tengah jalan, tangannya meliuk-liuk sembari memegang kain panjang. Suara klakson pun bersahut-sahutan. Untungnya ada Pak Ogah yang menyuruhnya minggir dari jalan. Ibu C malah marah-marah sambil meracau. Kabar terkininya, Ibu C sudah diamankan keluarganya. 

Kasihan memang mereka yang hidupnya makin terjepit di jaman resesi ini. Bersyukurlah orang-orang yang mampu menjaga akal sehatnya disaat sulit. 

Berita Terkait : Dibantu Bidan Ajaib

Akan tetapi, mereka yang stres maupun gila itu tetap punya hak-hak yang harus dihormati dan dipenuhi. Sebagaimana amanat Undang-Undang Kesehatan Jiwa, di mana penderita gangguan jiwa berhak atas pelayanan kesehatan yang layak dan bebas dari stigma. 

“Tapi om, kita yang masih waras aja susah mendapat pelayanan kesehatan yang layak, masa harus nunggu gila dulu,” kata Amir, satpam perumahan. Iya juga sih. ***