Yang Nengokin Sakit

Ngopi - Yang Nengokin Sakit
Catatan : AULIA DARWIS

RMco.id  Rakyat Merdeka - Harusnya tulisan ngopi saya untuk kesekian kali ini kembali mengupas kuliner. Tapi tak jadi. Karena lebih baik membahas tulisan teman saya yang kemarin masih hangat dibicarakan teman kantor. Judulnya, Teman Yang Menguburkanku. Menyentuh, mengingatkan pada teman-teman seperjuangan yang sudah mendahului. 

Beberapa kawan sampai terharu. Tak lupa mengirim doa buat teman yang sudah mendahului. Mungkin ini jadi pengingat, agar kita menjadi lebih baik lagi. Teman yang memberi manfaat. Kalau tidak bisa, minimal bukan teman yang menyakiti.

Berita Terkait : Takut Sakit Ginjal

Tiga sejawat yang mendahului itu, yang pertama dulunya duduk di samping saya. Terkena cancer. Kondisi fisiknya pelan-pelan menurun. Tapi masih semangat ngantor tiap hari, sangat bertanggung jawab dengan halamannya. 

Sampai-sampai beliau diminta resmi supaya istirahat saja di rumah biar fokus pengobatan. Tak beberapa waktu, kawan itu berpulang. Kita kaget. Malam hari kami dari kantor bareng-bareng menjenguk ke rumah orangtua almarhum di Bandung.

Baca Juga : Tes Fisik Jadi Menu Perdana TC Timnas Indonesia U-16

Kadang kami harus selalu siap dengan berita buruk mengejutkan. Kawan kedua dan ketiga juga sakit, mendadak. Tapi kami lega masih bisa melihat dan mengantarkannya sampai ke liang kubur. Pemakamannya ramai dipenuhi sahabat, keluarga, dan tetangga. Selamat jalan kawan.

Setelah mengenang para sahabat, spontan saya jadi ingat melihat foto spanduk tulisan ditempel tinggi di atas gerbang kampung. Bunyinya, siapa pun presiden terpilih, mau 01 atau 02, bukan mereka yang nengokin kamu sakit. Tapi tetangga!

Baca Juga : Bos ADP Group, Prancis Kena Coronavirus

Betul juga. Di tengah kontestasi politik bertensi tinggi ini, apa-apa selalu dicurigai, membelah dua kubu. Yang tidak sekubu ditimpuk, digusur, diroling. Semoga itu hanya kelakuan elite saja, aktor ketoprak politik. Yang ketika hajatan selesai mereka sudah pelukan sorak sorai. Sementara kubu penonton, tak perlu terkoyak. Tetap kompak. Karena nanti bukan capres itu yang nengokin kamu sakit, tapi teman seduduk semeja seobrolan sengopi. ***