Ngopi - Jadi Siapa Yang Gila?
Catatan : Redaktur

 Sebelumnya 
Endingnya bisa ditebak. Keduanya ribut sendiri. Dan makin runyam karena anggota keluarga lain ikut-ikutan. Acara arisan rutin keluarga yang akan digelar 3 hari kemudian pun dibatalkan.

Paman T cs perang dingin dengan Om P. Nah, untunglah MK dan KPU baik. Memberikan ODGJ alias “orang gila” hak untuk nyoblos. Jadi orang-orang macam Paman T dan Om P bisa ikut nyoblos. Loh kok gitu? Iya. Saya jadi anggap mereka masuk dalam kategori ODGJ.

Berita Terkait : Ironi Pilkada dan Covid

Kok kedengarannya jahat ya? Enggak kok. Soalnya, saya anggap akal sehat mereka semacam hilang. Kata kawan-kawan saya, itu orang gila, kan? Berantem karena beda pilihan. Hubungan darah dan silaturahmi putus karena membela orang yang “bukan siapa-siapanya”, kecuali satu garis keturunan Nabi Adam.

Itu hilang akal nggak? Buat saya sih iya. Bandingkan sama Iwan Sempleng, “orang gila” di daerah rumah saya. Dia tidak pernah berantem sama orang lain. Paling banter minta rokok sebatang.

Baca Juga : Dirawat di RS Karena Covid, Bupati Berau Tutup Usia

Malah kalau lagi punya rokok, dia bagi orang lain. Orang gila beretika, saya istilahkan. Kalau di 2014 kita sering dengar, banyak caleg gagal yang stres, nah di 2019 ini sepertinya bakal lebih luas. Bukan cuma caleg.

Bakal banyak orang jelata yang stres ketika capres pilihannya kalah. Tanda-tandanya sudah terlihat dari orang-orang “golongan” Paman T dan Om P itu. Bersiap kuliah lagi. Ambil jurusan psikologi. Peluang menggiurkan ini. **