Ngopi - Korban Ghosting
Catatan : Redaktur

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menghilang tanpa kabar alias ghosting sejak kencan pertama setelah kenal lewat dunia maya menjadi sesuatu yang menyakitkan. Apalagi kalau orang yang sedang pedekate alias pendekatan itu sudah telanjur punya ikatan emosional dan baper duluan.

Kilas balik ke kenangan saat masih duduk bangku SMA, pengalaman ghosting ini pernah saya rasakan. Saat itu, rasanya seperti hancur. Harapan yang sedang melambung setinggi langit seketika dijatuhkan ke dasar bumi. Sebelumnya, setiap hari kami selalu berbalas pesan, setiap malam teleponan sampai ketiduran. Tapi, suatu hari setelah agenda perjumpaan, dia justru hilang tanpa kabar.

Berita Terkait : Dinasehatin Agar Sering Ngantor

Sejam, dua jam, semalaman, lalu seharian setelahnya, tak ada harapan. Orangnya hilang tanpa kejelasan. Awalnya, saya masih berpikir positif. Karena tak ada firasat akan ditinggalkan, "Mungkin sedang ada urusan," gumam saya, kala itu.

Tapi, setelah berhari-hari kemudian, dia masih tidak bisa dihubungi. Padahal, sudah puluhan pesan khawatir saya kirimkan. Dengan segala pertanyaan, apakah dia baik-baik saja, atau adakah perlakuan salah dari saya yang membuatnya sakit hati?

Berita Terkait : Wafatnya Teman Orang-orang Kecil

Meski begitu, saya masih menyangkal dia sudah pergi. Saya masih berpikir, mungkin dia hanya ingin waktu untuk sendirian sejenak, dan pasti baik-baik saja.

Ternyata, semua itu salah. Dia tidak sibuk atau tidak sedang ingin sendirian. Sebab, aktivitas di media sosialnya baik-baik saja. Dan akhirnya, bisa ditebak, memang dia sebenarnya tidak menginginkan komitmen yang lebih jauh. Mau nggak mau, saat itu saya harus menerima kalau sedang jadi korban ghosting. [Mentari Kusuma/Wartawan Rakyat Merdeka]