Sampai Jumpa Amra

Catatan : FAZRY

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pagi pertengahan September 2016. Saya sedang berada di Bosnia Herzegovina (BiH), sebuah negara di Semenanjung Balkan, Eropa Tenggara. Tepatnya di areal kuburan massal Muslim Bosnia di Srebrenica.

Wilayah ini sejak lama memiliki keragaman etnis dan agama. Tiga yang terbesar adalah Bosniak (etnis Bosnia yang umumnya beragama Islam), Serb (etnis Serbia), dan Kroat (etnis Kroasia).

Tujuan saya ke sini, memenuhi undangan Duta Besar RI untuk Bosnia Herzegovina (BiH), Amelia Yani. Meliput pelaksanaan program in connection with the Indonesian independence day and exhibition 20 September 2016 di National Theatre Sarajevo.

Sebelum meliput acara tersebut, saya diajak mengunjungi pemakaman korban pembantaian muslim etnis Bosnia. Kami bertemu Amra Begic, perempuan Bosnia yang selamat dari maut pada Juli 1995.

Baca Juga : Lahirkan Human Champions di Era Industri Aviasi 4.0, AP II Gandeng BPSDM Kemenhub

Amra beruntung, meski sempat ditahan tentara Serbia, dia selamat dari pembantaian karena berhasil melarikan diri ke Kota Tuzla. Sementara saudara dan kedua orang tuanya, hingga kini belum ditemukan.

“Saat ditahan tentara Serbia, umur saya 13 tahun, saya protes, kenapa jatah roti saya harus dibagi dengan orang lain. Kemudian Ibu saya bilang, hari ini kita masih hidup, besok belum tentu, berbagilah dengan yang lain mumpung kita masih hidup,” kenang Amra sambil berkaca-kaca.

Sambil bercerita, Amra membawa kami berkeliling menyusuri nama-nama para korban pembunuhan di areal makam. 8.372 korban pembunuhan tercatat apik di atas batu marmer.

6.000 jenazah sudah diketahui identitasnya lewat tes DNA. Menurut Amra, peristiwa paling mengerikan saat jenazah korban ditemukan di gunung-gunung, banyak korban yang dimutilasi.

Baca Juga : Zidane Siapkan Senjata Rahasia Stop Messi

Kata dia, lahan kuburan massal dan gudang bekas pabrik baterai kini jadi saksi sejarah. Saat pristiwa pembantaian, 6.000 orang disekap di gudang pabrik.

Diantaranya perempuan, termasuk bayi dan anak dibawah usia 14 tahun. Tanpa ada alas tidur, tanpa air minum dan tanpa dikasih makanan.

Kemudian, Amra mengajak kami ke bangunan lain, diputar film dokumentasi kekejaman tentara Serbia. Di film itu, sejumlah penjahat perang Bosnia diadili di Den Haag.

Sementara Bekas Presiden Serbia Slobodan Milosevic, meninggal dalam penjara di Belanda. Kisah Pembantaian Srebrenica adalah moment terbesar sekaligus paling memilukan dari Perang antar etnis Bosnia.

Baca Juga : Yang Muda, Yang Taklukkan Dunia

Kisah pilu ini bakal terus menjadi pengingat baik di negara-negara Balkan maupun di tempat-tempat lain, bahwa perpecahan antar etnis, ialah persoalan gawat yang dapat membikin segalanya berantakan.

Setelah kunjungan rampung, dengan perasaan haru dan sedih, kami berpamitan kepada Amra. See you again Amra. Anda kuat, dan semoga para korban mendapat tempat terbaik disisi Tuhan YME. **