Pempek Online

Catatan : AULIA DARWIS

RMco.id  Rakyat Merdeka - Beberapa hari ini, hujan kadang masih mengguyur Jakarta. Udara yang dihembuskan mesin pendingin di kantor pun terasa menusuk-nusuk kulit.

Kondisi begini cocoknya diatasi dengan makanan hangat dan pedas. Biasanya anak-anak kantor, kalau lagi berdompet tebal, memilih jajan di seberang gedung. Ada sate kambing.

Lain lagi dengan para gadis. Mereka lebih suka bakso nan menggiurkan rasa. Kalau tak bisa makan di tempat jualan, mereka biasanya nitip dibeliin, dan makan rame-rame di kantor.

Makan bareng sambil cekikan, sambil gosipin apa saja. Gurih bau bakso pun menyebar ke mana-mana. Bagi saya, makan pedas enak ya pempek. Langganan saya pempek pinggir jalan di samping kampus Binus.

Berita Terkait : Melek Sosial Media


Penjualnya masih muda. Biasa dipanggil Aan. Pria gempal ini masih saudara sekampung. Jadi, jajan sekaligus membantu melariskan dagangan teman. Rasa cuka dan cabe pedas sudah terbayang-bayang saat saya memacu motor ke arah Rawa Belong.

Namun, saya kecele. Malam itu pempek sudah habis terjual. Saya bengong, kok bisa. Padahal dia biasanya jualan bahkan sampai dini hari buat menghabiskan barang dagangan.

Aan ketawa. “Itulah kamu sudah jarang main ke sini,” sentilnya. Dia lalu bercerita, sejak tiga bulan lalu pempeknya sudah online. Maksudnya, Aan bergabung dengan layanan ojek pesan antar makanan. dan berbagai marketplace lainnya.

Alhasil, pembeli bertambah tak hanya dari orang-orang sekitar toko kecilnya di emperan trotoar. Toko kecilnya juga sudah diberi nama. Pempek Annur. Di atas meja ada mesin kecil penghitung pesanan, sebagai bukti nota pembelian.

Berita Terkait : Presiden Ukraina Legowo Digantikan Bintang Komedi

Pesanan makanan dari pembeli online begitu banyak. Aan senang pendapatan naik. Biasanya omset cuma tiga ratus ribuan, kini naik 4 kali lipat jadi di atas sejutaan rupiah. Kualitas hidup juga meningkat. Dulu cuma tinggal di kontrakan sempit, kini bisa ngontrak di rumah yang lebih luas.


“Alhamdillah,” Aan mengucap syukur. Itu semua berkat punya ponsel di tangan yang dimanfaatkan buat bisnis. Semua pesanan online mampir di telepon pintarnya. Kalau kapal selam sudah habis, cuma tersisa dua item, Aan menutup orderan.

Lapaknya tak ada lagi di platform layanan pesan antar makanan. Belum tengah malam, dagangannya sudah habis. Kini penjual pempek itu mulai keteteran melayani pelanggan. Anak istri sudah dikerahkan ikut membantu, tapi pesanan makin banyak.

Dia mulai berpikir mencari karyawan dan lebih memajukan usaha. Saya akhirnya pulang dengan tangan kosong tanpa bungkusan pempek buat dibawa ke rumah.

Berita Terkait : Broner Jadi Buronan Polisi AS

Selamat ya kawan, e-commerce atau dagangan via online betul-betul bisa membuat usaha kecil naik kelas. Tentu, masih banyak cerita usaha kecil lainnya yang sukses menjajakan dagangan di platform digital. ***

RM Video