Sekeluarga Di Atas Motor

Catatan : MUHAMMAD RUSMADI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di tengah ribuan pemotor di ibukota, sesekali, atau bahkan mungkin kita sering memperhatikan, penumpang motor yang sebenarnya sudah over kapasitas.

Umumnya, motor itu kapasitasnya ya ditumpangi dua orang dewasa. Tapi tak jarang, masih plus dua, atau mungkin tiga orang anak. Ya, naik motor lengkap sekeluarga. Andai bisa mengeluh, tentu motor itu pun akan menolak mentah-mentah. Ditumpangi muatan berlebih.

Apalagi, motor yang seringkali, katakanlah bernasib sial itu, “cuma” jenis motor bebek. Sudahlah CC mesinnya pas-pasan. Tempat duduknya pun demikian. Untuk jenis muatan berlebih demikian, meski jelas melanggar aturan, polisi juga sebenarnya seringkali tutup mata saja.

Berita Terkait : Penting, Konektivitas Infrastruktur Untuk Efisiensi Transportasi

Ya mau gimana lagi? Mungkin karena jumlahnya sudah terlalu jamak, polisi pun boleh jadi merasa iba. Bahkan jangan-jangan, bila sedang tak berdinas pun, polisi yang (maaf) berpangkat rendahan, juga melakukan hal yang sama. Mungkin lho, ya. Hehe.

Banyak alasan memang. Kenapa sebuah keluarga, katakanlah 4, atau mungkin 5 penumpang tadi, rela berdesakan di sebuah motor. Bodoh amat yang namanya nggak nyaman. Panas. Boro-boro mikirin polusi. Yang penting, irit. Tujuan pun bisa dicapai hingga titik terdekat.


Boleh jadi hingga ke depan pintu percis (kata orang Betawi, mah!). Beda dengan naik bis atau kereta. Seringkali harus berjalan jauh untuk mencapai tujuan. Kadang juga harus nyambung angkutan umum berkali-kali.

Berita Terkait : Menjaga Marwah MK

Sebut saja misalnya naik angkot. Jalannya, suka-suka si sopir. Bila kita pengen buru-buru, eh, ternyata dia ngegas angkot nggak jelas, antara narik atau sebenarnya ngantuk.

Begitu ketemu gang, dia ngetem dulu, untuk lama waktu yang suka-suka. Diprotes mau buru-buru, “Sono, naek taksi aje! Kalo nggak, Gojek banyak, noh!” jawabnya. Nah! Ketemulah kini yang namanya ojek online (Ojol). Idem!

Kembali ke motor lagi! Bahkan ketika Ahok masih menjabat Gubernur DKI, lalu dia protes bahwa motor bukanlah alat transportasi, Presiden Jokowi malah justru mengundang para driver Ojol makan siang di istana. Beugh!! Pesannya, tentu.

Berita Terkait : Gandeng IMI, tvOne Gelar Oneprix Balap Motor

“Kita masih belum bisa meninggalkan motor! Apalagi lagi maen larang-larang! Karena transportasi massal memang belum siap!” Bahkan, saat kini MRT sudah mulai beroperasi pun, masih sangat-sangat terbatas rutenya, kan? Untuk mencapai Lebak Bulus, atau bergerak ke tujuan berikutnya dari kawasan Dukuh Atas sana, masih harus berjuang lagi.

Dan, memang masih terlalu banyak justru, yang masih bergantung pada motor-motor Ojol tadi! Semoga, transportasi massal akan makin banyak tersedia di waktu-waktu mendatang.
 Selanjutnya 

RM Video