Ngopi - Mimpi Miswan Di Pemilu 2024
Catatan : DEDE HERMAWAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Proses penghitungan Pemilu 2019 sudah berjalan sebelas hari. Banyak suka dan duka yang dijalani petugas penyelenggara pemilu.

Salah satunya yang dialami Miswan. Pria berusia 55 ini terlihat sibuk wara-wiri, baik sebelum dan sesudah pemilu. Maklum, dia dipercaya menjadi petugas pengamanan langsung (pamsung) di TPS 43 Kelurahan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan tempat saya nyoblos.

Handuk kecil warna putih yang disangkutkan dipundaknya terus menemani Miswan ke mana saja. Sesekali dia pakai buat ngelap keringatnya. Rasa capek dan lelah tidak dia rasakan.

Baca Juga : Politisi Nasdem Ini Minta Masalah Lahan GP Mandalika Diselesaikan

Dari sekian anggota KPPS, Miswan paling sibuk. Mulai dari memasang tenda, merapikan bilik suara, menata kursi, merapikan pagar pembatasan serta membuat hiasan TPS dia lakoni. Bahkan, saat hujan turun pun, dia tunggu dan cek dimana posisi tenda yang bocor. Dia kerjakan bersama anggota KPPS lainnya.

Bagi Miswan, menjadi Pamsung TPS bukan pertamakali, hampir setiap pemilu dan pilkada dia selalu terlibat. Tapi jabatan pamsung ini untuk pertamakalinya. "Saya sudah tua, posisi KPPS saya serahkan ke yang muda-muda," ujar.

Apalagi, kata Miswan, dirinya sudah memprediksi beban kerja Pemilu 2019 sangat berbeda dengan pemilu sebelumnya. "Coba bayangkan untuk DKI Jakarta aja empat kotak suara, setiap kotak suara ada berkas-berkas yang harus diisi disaat kita lelah. Itu yang Jakarta, di luar Jakarta ada lima kotak suara," ungkapnya.

Baca Juga : Dradjad Wibowo Yakin Meme Klepon Adalah Fitnah Jahat dan Pengalihan Isu

Ketika mendengar berita banyak petugas KPPS meninggal dunia sebanyak 225 orang, Miswan mengaku sedih dan prihatin. Pasalnya, dia merasakan sendiri bagaimana pekerjaan yang diamanatkan ke petugas KPPS terlalu banyak dan berat. Bahkan, jam kerja yang dijalankan pun tidak menentu. Petugas hampir bekerja selama 24 jam, terutama menjelang pemungutan suara hingga penghitungan suara dilakukan.

Meski tugasnya berat, Miswan tidak mempersoalkan honor yang dia terima sebesar Rp 450 ribu. Tapi secara tidak langsung dia memberi catatan kepada elite penyelenggara pemilu yaitu KPU. Dia berharap KPU ke depan lebih memperhatikan aspek keselamatan kerja. "Kita bekerja hampir 24 jam dan tidak dimbangi dengan istirahat yang cukup," katanya.

Jika diperhatikan, kerja Miswan sebagai pamsung dan anggota KPPS lainnya tidak berhenti setelah selesai penghitungan. Mereka harus mengawal empat kotak suara sampai ke PPS Kecamatan. Menurutnya, pukul 02.00 WIB kotak suara baru selesai dianter dan diregistrasi. "Itulah puncak kerja kita tanpa istirahat selama dua hari."

Baca Juga : Petani Binaan Perta Arun Gas Kembali Panen Raya Buah Naga

Hal lain juga diakui anggota KPPS di TPS 42, Muhammad. Menurutnya, banyak anggota KPPS kebingungan saat mengisi dokumen disetiap kotak suara. Kesalahannya, selama mengikuti bimtek, tidak diberitahu dokumen-dokumen yang harus diisi.

"Bimtek hanya mempelajari cara mengisi hasil perhitungan suara. Mulai suara sah, tidak sah, surat suara tambahan, surat suara khusus," katanya.

Baik Miswan maupun Muhammad berharap peristiwa meninggalnya ratusan petugas KPPS menjadi pelajaran berharga. Mereka berharap Pemilu 2024 bisa lebih baik dan lebih mengedepankan aspek kemanusiaan bagi petugas penyelenggara pemilu. Sehingga pemilu bisa aman, damai dan tentram. Aamiin.