Pesan Dokter-nya Para Dokter

Catatan : SARIF HIDAYAT

RMco.id  Rakyat Merdeka - Belum lama ini saya bertemu dengan seorang dokter. Usianya sekitar 50 tahunan. Pengalamannya sudah panjang. Pernah kerja 19 tahun di Jerman. Sekarang bekerja untuk badan organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO).

Saya menyebutnya dokternya para dokter karena tugasnya antara lain memberikan penyuluhan kepada para dokter. Belum lama ini, beliau menjadi pembicara di seminar tentang penyakit autoimum di Jakarta.

Saya sebenarnya tertarik ikut seminar itu. Tetapi tidak diperbolehkan. Karena acara itu khusus untuk para dokter. Tetapi saya dapat cuplikannya walau sedikit.

Bicara kurang lebih setengah jam, saya mendapat pesan penting yang saya kira baik untuk diceritakan lagi ke orang lain. Mungkin sepele bagi sebagian orang. Tetapi menurut saya penting. Apalagi, penyakit autoimum belum terlalu familiar di masyarakat.

Berita Terkait : Liga 1, Persija Hantam Kalteng Putra 3-0

Saya pun baru tahu, setelah orang terdekat saya dinyatakan terkena penyakit autoimun, sekitar satu tahun lalu. Penyakit autoimun adalah penyakit terganggunya sistem imunitas tubuh.

Menurut dokter itu, penderita penyakit autoimun di Indonesia terus meningkat. Ngeri kan. Penyebabnya itu bisa dari genetik (bawaan lahir) dan cara hidup yang salah.

Dia menemukan banyak kasus, penderita autoimum disebabkan karena salah cara mengkonsumsi obat-obatan ketika sakit. Misalnya, ketika sedang mengalami demam.


Selain meminum obat anti nyeri, tidak sedikit masyarakat mengkonsumsi anti biotik dengan asumsi agar bisa cepat sembuh. Seharusnya, langkah pertama terbaik menghadapi demam yakni beristirahat total.

Berita Terkait : Antrean Para Tersangka

Mengkonsumsi makanan dan meminum bergizi. Cara ini bila dilakukan dengan baik akan meningkatkan imunitas tubuh. Dan, Secara alamiah demam bisa mereda.

Dokter itu memberikan pemahaman kepada saya melalui analogi peperangan. Penyakit (demam) memiliki bala tentara berupa bakteri. Sementara sistem imunitas tubuh memiliki bala tentara berupa makanan bergizi.

Untuk mematikan musuh (penyakit) cukup meningkatkan bala tentara yang bisa mengerek imunitas tubuh. Biarkan mereka bertempur secara alami.

Untuk apa memanggil bala tentara lain (antibiotik) jika sebenarnya tidak diperlukan. Banyak orang terkena penyakit autoimun disebabkan masa lalunya sering mengkonsumsi antibiotik.

Berita Terkait : Tekan Defisit, Jokowi Minta Para Menteri Genjot Ekspor

Antibiotik memang efektif untuk membunuh bakteri. Tetapi jika sering atau salah digunakan bisa merusak sistem imunitas tubuh. Ibarat pertempuran, bala tentara baik yang baik dan jahat saling serang.

Mereka sudah tidak bisa membedakan mana teman dan mana lawan. Semua saling menghancurkan. Penyakit autoimum bukan penyakit ringan. Banyak ahli medis memasukan penyakit ini dalam golongan kronis.

Pesan ibu dokter itu kepada saya, tolong sampaikan kepada teman dan keluarga agar tidak sembarangan mengkonsumsi antibiotik kalau penyakitnya ringan.Jadi, perang dululah sebelum menyerah. ***