Berburu Rejeki di Bulan Puasa

Catatan : SISWANTO

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sudah biasa, Ramadan itu identik dengan takjil. Makanan ringan ini selalu dicari banyak orang yang ingin berbuka. Tingginya permintaan takjil ini membuat gairah ekonomi masyarakat naik drastis.

Umumnya ibu-ibu, beramai-ramai mendadak niaga. Yang dijual, tak jauh dari beraneka jenis takjil. Mulai dari gorengan, lontong, kolak hingga es buah. Ada juga dagangan berupa lauk matang untuk makan malam dan sahur.

Mencari pedagang takjil di bulan puasa, sangat gampang. Hampir di tiap sudut, mereka tumplek. Berjejer di kiri-kanan jalan. Waktunya jualannya, tentu sore hari. Biasanya, start jam 4 hingga abis Magrib.

Begitu pun di Bekasi, tempat saya tinggal. Yang dagang tidak kalah ramai. Bahkan 1 jam sebelum magrib, jalan-jalan macet. Ramai pembeli dan penjual bertransaksi di pinggir jalan.

Berita Terkait : Musim Kemarau, Waspadai Kenaikan Harga Pangan

Yang menarik, mayoritas penjual takjil ini adalah pedagang musiman. Mereka berstatus sebagai pedagang, hanya di bulan puasa aja. Di hari biasa, mereka ibu-ibu rumah tangga pada umumnya.

Ibu Yani misalnya. Langganan saya ini, sudah hampir 10 tahun jualan takjil. Posisi jualannya sama, di depan toko elektronik Jl. Raya Seroja Bekasi. Jenis takjil yang dijual juga sama. Gorengan, lontong, bihun goreng dan kolak.

Dengan modal Rp. 300-350 ribu, sehari Ibu 4 anak ini bisa mencapai omzet Rp. 500-550 ribu. “Lumayan, untung bisa 150 sampai 200 ribu sehari,” katanya.


Bagi Ibu Yani, jualan takjil adalah usaha yang paling tepat selama Ramadan. Modalnya tidak terlalu besar, jualnya gampang.

Berita Terkait : Berdikari Di Atas Lahan Gambut

Lagian makanan yang dijual, cukup gampang membuatnya. “Bagi ibu-ibu, bikin gorengan itu makanan sehari-hari. Nggak ribet,” tambahnya.

Menurut saya, alasan Ibu Yani ini masuk akal. Mungkin jawabannya sama, kalau saya bertanya dengan pedagang takjil lainnya. Itu lah kenapa, pedagang takjil begitu menjamur selama Ramadan.

Sebenarnya selain takjil, banyak juga usaha lain yang tidak kalah menariknya. Dan itu biasa terjadi di bulan Ramadan. Misalnya, dagang baju dan kue lebaran. Kalau saya dan istri memilih yang kedua, jualan kue Lebaran.

Sudah 5 tahun ini, bisnis seperti ini sudah kami lakoni. Kebetulan, istri saya memang punya keahlian untuk membuat berbagai macam cookies. Mulai dari Kastangel, Nastar, Putri Salju, Lidah Kucing, Sagu Keju dan Stik Coklat.

Berita Terkait : Verstappen Juara di Kandang Macan

Mulai tahun ini, istri memulai inovasi baru dalam berdagang. Kue dijual tidak lagi per toples. Tapi satu paket dalam bentuk parcel. Satu kotak parcel, berisi tiga toples kues dengan jenis berbeda. Selain itu, kami juga mencoba menjaring reseller.

Ahlamdulillah, ibu-ibu muda yang merupakan teman kami juga bersedia menjadi reseller. Mereka ikut membantu menjajakan dagangan dengan mengambil untung dari tiap parcel yang dijual.

Sejauh ini mereka semangat. Sama-sama mencari rejeki di bulan puasa. Lumayan, keuntungan bisa buat bekal mudil Lebaran. ***