Dibentak Abang Ojek Online

Catatan : UJANG SUNDA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa merupakan media untuk memupuk kesabaran dan mengendalikan emosi. Begitu kata ustaz-ustaz. Namun, aplikasi ini cukup sulit. Bahkan sangat sulit. Apalagi di jalan raya.

Ya, gaya berkendara sebagian masyarakat, khususnya di Jakarta, sama saja antara di bulan Puasa dan di luar Puasa. Buru-buru, saling serobot, memotong, melawan arus, dan yang lainnya. Jika tersenggol pengendara lain, marahnya bukan main. Jika merasa terhalangi, juga begitu.


Selasa siang kemarin, saya mengalami sendiri. Saat itu, saya sedang mengendarai sepada motor di Jalan Panjang, Kebayoran Lama. Tepat di dekat ITC Permata Hijau. Saat itu saya memacu sepeda motor dengan kecepatan kira-kira 30 kilometer per jam. Posisi saya agak di tengah. Kondisi di depan saya sedang padat. Di samping kiri depan ada sepeda lain melaju. Di samping kanan, ada mobil.

Berita Terkait : Nindy Tetap Move On, Berdoa dan Bikin Nastar

Saat sedang asyik memacu sepeda motor, di belakang ada yang mengklakson. Dua kali. Belum sempat menoleh ke kaca spion, tiba-tiba di samping kanan ada pengendara sepeda motor matic nyelempit. Saya agak kaget. Lebih kaget lagi, si pengendara tiba-tiba membentak. “Mas, minggir dong!” ucapnya dengan tinggi.

Pengendara itu memakai jaket hitam dan helm biasa. Tapi, kelihatannya dia seorang driver onjek online. Hal itu kelihatan dari wanita yang diboncengnya menggunakan helm salah satu ojek online. 


Setelah ngebentak, dia selap-selip zig-zag untuk terus merangsek ke depan. Melihat aksinya, saya cuma bisa geleng-geleng. Mungkin dia atau penumpangnya sedang ada urusan penting. Sehingga harus buru-buru. Sebenarnya, sempat gondok juga sih. Tapi harus sabar. Kan sedang puasa.

Berita Terkait : Ingat Dagang Kaki 5

Seminggu sebelumnya, saya menyaksikan aksi yang lebih keras lagi. Saat itu, saya sedang melintas di Jalan Raya Ciledug. Tepatnya, di jembatan depan Kompleks Ciledug Indah I. Saat itu, kondisi jalanan sedang sangat macet. Di tengah kemacetan, di ujung jembatan, ada pengendara sepada motor yang membonceng satu perempuan dewasa dan dua anak kecil memotong jalan. Dia mau nyeberang. Dia merangsek di depan angkot. Karena posisi jalan menurun, angkot tersebut sempat maju dan bagian depannya menyentuh sepeda motor yang mau memotong itu. 

Brak, si pengendara langsung memukul kap angkot tersebut. “Mundur!” teriaknya dengan nada sangar. Sang sopir angkot tidak bisa langsung mundur. Karena di belangnya penuh kendaraan lain. Brak, si pengendara sepeda motor yang marah itu memukul kap lagi. Wanita yang memboncengnya sempat meminta si pengendara itu untuk sabar, tapi diabaikan. Setelah beberapa saat, si sopir angkot akhirnya bisa memundurkan sedikit kendaraannya, sehingga ujungnya tidak lagi menyentuh pengendara galak tersebut.


Dilihat dari galaknya dua pengendara tadi, sepertinya mereka belum mendengar ceramah para ustaz mengenai makna puasa. Atau mungkin mereka tidak puasa. Entahlah. 
 

RM Video