Kiprah Ustad Muda Di Pileg

Catatan : M FIKY AZIS

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ternyata tidak semua caleg dari kalangan ustad memahami aturan kampanye Pileg. Bahkan, mereka juga tidak paham cara perhitungan kursi dan jumlah kursi yang ada di dapilnya. Termasuk jumlah perolehan suara partainya di Pileg sebelumnya. Hal itu diterungkap oleh salah satu caleg dari kalangan ustad muda dengan inisial ‘RW’ saat silahturahmi ke Ponpes di Pondok Gede, Bekasi, baru-baru ini. Kebetulan pemilik Ponpes sahabat lama saya saat kuliah, yang sekarang sudah menjadi ustad muda di wilayah tersebut.

Ustad ‘RW’ datang bersama temannya naik motor bebek. Mengenakan baju koko berwarna coklat muda dan sarung, ustad ‘RW’ tiba di lokasi setelah shalat Jumat. Kedatangannya disambut hangat oleh rekan sejawat, ustad ‘WA’, pemilik ponpes bersama saya di lokasi. Dalam obrolannya, Ustad ‘RW’ meminta doa restu untuk maju di Pileg 2019. Ustad ‘RW’ nyaleg melalui perahu, salah satu partai islam di Pondok Gede. ‘RW’ juga meminta wejangan bagaimana cara kampanye yang baik dan benar, kepada Ustad ‘WA’.

Lalu, sahabat saya, ustad ‘WA’ tersenyum mendengar rekan sejawatnya sebagai ustad yang ingin nyaleg itu. Sambil menyeruput kopi hitam, Ustad ‘WA’ menanyakan berapa jumlah kursi di dapilnya dan berapa suara partainya di Pileg sebelumnya. Ustad ‘RW’ langsung terdiam dan tertunduk, seraya tidak tau soal jumlah dan perhitungan kursi di dapilnya. Melihat
sikap itu, ustad ‘WA’ tergeleng-geleng melihat rekan sejawatnya itu. “Eat dah, gimana mau nyaleg jumlah kursi di dapilnya saja kaga tau. Buset dah loh,” canda ustad WA, sambil menghisap rokok keretek 234 Dji Sam Seo.

Berita Terkait : PDIP Siapkan Kadernya Untuk Calon Menteri

Ustad asli Jakarta itu pun memberi nasihat kepada sejawatnya ustad ‘RW’. Sebelum nyaleg kita harus pahami dulu syarat dan cara-caranya. Mulai perhitungan kursi di dapilnya. Jumlah kursi disana. Setelah itu, baru dilihat perolehan suara partainya di Pileg sebelumnya.


“Itu kunci dasarnya. Setelah itu baru diputuskan secara mateng, maju caleg atau tidak. Tapi ingat peran ustad itu lebih hebat dan mulia dibanding terjun ke politik loh,” kata Ustad WA, seraya menasihatin sahabatnya itu.

Kepada saya, ustad ‘WA’ mengaku miris melihat kiprah para ustad muda yang baru terjun ke kancah politik di era milenial ini. Pengetahuan politik yang minim dan modal seadanya, tapi nekat terjun ke politik.

Berita Terkait : Kerja Kurang Layak Penyebab Petahana Tumbang Di Pileg

“Kalau syahwat kekuasaan diutamakan, pasti hasilnya tidak akan bagus dan itu bisa merugikan diri sendiri. Ini yang harus kita renungkan bersama. Status ustad harus dijaga benar. Jangan dikotorin oleh syahwat kepentingan politik semata,” katanya.

Saat ini, perang spanduk sampai baliho caleg dari kalangan ustad pun semakin genjar terlihat sampai ke pelosok kampung di Pondok Gede. Masing-masing caleg yang notabene ustad mengusung slogan yang berbeda-beda untuk menarik simpati umat.

Dari pantauan di lapangan, ada baliho besar berdiri tegak di area parkiran salah satu gedung. Di baliho ditulis “Berhikmad Melayani Umat”. Ada juga spanduk bertebaran di pinggit jalan bertuliskan “Satukan Indonesia atau Untuk Indonesia Yang Lebih Baik.

RM Video