Santun Sesama Pengguna Kereta

Catatan : MELLANI EKA MAHAYANA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sebagai warga sub urban, kereta listrik jadi andalan saya setiap hari. Jika ingin ke kantor. Berangkat dari Stasiun Jurang Mangu bisa berhenti di Stasiun Kebayoran Lama. Bisa juga di Stasiun Palmerah. Jika mau mengunjungi pusatnya Jakarta, bisa turun di Stasiun Tanah.

Itu artinya, saya telah menjadi satu dari puluhan ribu penumpang tiap hari dari moda yang digunakan di Indonesia sejak 1864. Saya lebih memilih menggunakan kereta dibandingkan angkutan umum lainnya. Selain adem, saya terhindar dari bermacet ria. Ongkosnya juga murah dibanding saya ngangkot.

Mari hitung. Dari rumah hingga ke kantor bisa tiga kali ganti angkot. Totalnya pulang pergi Rp 28.000. Lama perjalanan sejam tanpa macet. Jika ada macet, bonusnya ketiduran di angkot. Lalu kelewat. Tentunya nambah biaya angkot lagi.

Jika dengan kereta total biaya pulang pergi 22 ribu. Perjalanan 45 menit. Jika ketiduran tak ada biaya. Sebab, hanya duduk saja tak perlu bayar lagi.

Berita Terkait : Menhub Tinjau Insfrastruktur Transportasi Di Bali

Untung lainnya. Jam kerja saya beda dengan orang kantoran lain, jadi peristiwa seperti ikan sarden kalengan, tak saya alami. Penumpang dempet-dempetan bisa dihindari Nikmatlah, apalagi dapat duduk. Meski dari stasiun asal ke tujuan hanya sekitar 15 menit, tetap saja ingin duduk.

Pernah suatu ketika, saya mau turun di Tanah Abang. Artinya, jika tak dapat duduk, Anda bisa berdiri 30 menit. Nah, kali ini saya sedang apes. Tak ada kursi lowong. Padahal saya masuk gerbong perempuan. Posisinya di bagian ujung depan dan belakang kereta.

Di satu gerbong perempuan terdapat dua pasang deretan kursi panjang. Ditotal jumlahnya ada 4. Saling Berhadapan. Untuk satunya bisa diisi 7 orang. Jika dipaksa bisa delapan. Tapi kasihan duduknya kurang jejeg.


Tersedia juga kursi khusus penumpang lansia; ibu hamil; ibu dan balita; disabilitas, muat 3 orang. Biasanya ada di pojokan gerbong. Ada 4 buah. Tiap pojokan sepasang. Saling berhadapan.

Berita Terkait : IKM Serap 60 Persen Tenaga Kerja Industri

Meski tak sering diumumkan, banyak aturan saat menggunakan kereta listrik. Intinya rasa santun antara penumpang kereta. Tak bicara keras. Suara dari headphone tak bocor. Berbagi tempat duduk. Duduk tak seenaknya. Jika nanti sampai di stasiun, pakai tangga juga ada aturan.

Yang mau jalan terus berada di kanan. Sedangkan yang mau diam berada di kiri. Informasi itu ada disampaikan petugas kereta. Saat apes itu, saya berada di gerbong perempuan. Ketika saya masuk, gerbong itu penuh anak-anak dengan orang tuanya. Semua anaknya didudukkan.

Nggak ada yang dipangku. Ih sebel deh. Kayak tidak ada empati saja. Apa salahnya, jika anaknya dipangku. Ini orang tuanya seperti tak peduli. Sibuk main handphone. Dia pikir itu kereta moyangnya kali ya. Nggak gitu juga kali.

Cuma untuk kali ini saya nggak protes langsung ke penumpang itu. Sebab, saya kapok pernah dibentak penumpang karena keberanian saya menegakkan keadilan sesama penumpang kereta. Hehehe.

Berita Terkait : Kemenhub Kaji Bangun Transportasi Sistem O-Bhan

Tambah lagi, saat itu, saya tidak mood untuk menegur. Jadinya ya curhat di sini. Kasusnya tidak terkait tempat duduk. Waktu itu saya dibentak penumpng lain pengguna tangga berjalan.

Peristiwanya melibatkan penumpang menggendong anak. Dia diam saja berdiri di sebelah kanan tangga. Harusnya jalur ini untuk terus berjalan. Saya tegur dia agar jalan. Eh saya malah dibentak.

“Nggak liat ya, orang lagi ribet bawa anak!” ketusnya. Saya kaget dan malu, dibentak begitu. Tapi untungnya, penumpang lain membela. Mereka mengingatkan penumpang itu untuk berada di kiri. Tidak mengganggu orang yang mau terus jalan di bagian kanan. ***

RM Video