Ojol Militan

Ngopi - Ojol Militan
Catatan : MUHAMMAD RUSMADI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tak berlebihan sepertinya dengan pernyataan, pengendara Ojek Online alias Ojol adalah juga sebuah simbol militansi. Di samping fungsinya yang memang banyak memberi solusi atas parahnya kemacetan di banyak kota besar. Terutama di Jakarta.

Sekali lagi, ini terlepas dari kontroversi apakah motor merupakan alat transportasi atau tidak. Karena nyaris semua orang sepakat, untuk saat ini motor memang adalah solusi. Setidaknya hingga adanya angkutan massal yang benar-benar terjangkau, aman dan nyaman.

Bagi kebanyakan orang, motor hanyalah sebagai moda transportasi saja. Yang tidak digunakan sepenuh waktu. Karena mungkin hanya digunakan atau ditumpangi saat pergi-pulang ke dan dari tempat kerja saja.

Ini tentu beda bagi pengendara Ojol ini. Namanya juga pengendara, ya di atas motor itulah nyaris seluruh waktu mereka habiskan. Istilahnya mungkin, benar-benar ‘hidup di atas motor’. Bisa dari pagi hingga sore. Atau juga bahkan hingga malam. Bahkan hingga pagi lagi. Sekuatnya mereka narik saja.

Berita Terkait : Curhat Driver Ojol

Tak heran, kini sudah tak terhitung lagi jaket-jaket Ojol yang sudah tampak kumal! Tak lagi kinclong seperti saat awal-awal Ojol masih baru nge-top dulu. Demikian juga helm mereka atau helm buat penumpang. Terutama kacanya, umumnya sudah pada butek.

Sehingga kadang lebih nyaman tanpa menutup wajah lagi dengan kaca cover wajah. Karena pandangan jadi jauh lebih cerah dan realistis melihat “masa depan”. Dibanding bila menutup kaca helm, karena pemandangan tiba-tiba menjadi buram! Hehe!

Bagi kita yang hanya menumpang. Atau hanya naik motor bolak-balik dari rumah ke tempat kerja, meski bisa melintasi jalanan dengan lebih lancar jaya, umumnya tetap saja merasa capek. Belum lagi saat tiba-tiba diguyur hujan, ketika terjepit di tengah kemacetan. Lalu pontang-panting mengenakan jas hujan. Hal-hal begini mungkin sesekali saja.

Keadaannya tentu beda dibanding mereka yang benar-benar “hidup di atas motor” ini tadi. Karena memang ya, kalau nggak narik, ya nggak dapat duit! Begitu hukumnya.

Baca Juga : Ekonomi Goyang, Jokowi Jadi Pemarah

Maka tak jarang, selain kaca helm yang sudah butek, jaket kumal yang warnanya sudah berubah oleh sengatan matahari, pulang ke rumah pun tak tentu tiap hari. Di sebuah kawasan di Jakarta Selatan, sekelompok pengendara Ojol berkisah, mereka biasa berkumpul istirahat, bahkan tidur di depan sebuah ruko yang memang tidak digunakan.

“Tinggal gelar kertas kotak kardus aja buat rebahan. Namanya capek mah, pules aja tidurnya, Bang. Kadang bisa beberapa hari baru pulang ke rumah,” ujar Rudi, salah satu pengendara.

Bagaimana untuk urusan mandi? “Ya tinggal numpang mandi aja di toilet pom bensin. Paling tinggal nyumbang aja buat dana kebersihan,” aku Budi, pengendara yang lain. Sambil bercanda, mereka bercerita suka-duka di balik pengalaman selama menjadi driver Ojol.

Sambil ketawa-ketiwi di sela-sela istirahat mereka. “Pengalamannya unik-unik dah,” sambung Budi.

Baca Juga : Delegasi Misi Bisnis Belanda akan Optimalkan Peluang yang Ditawarkan Indonesia

Bahkan kalau narik malam hari, ceritanya, saat tiba di kawasan hiburan malam, ada saja terkadang penumpang yang bakal diantar pulang ternyata sedang mabuk! “Biasanya yang order kita sekuriti, minta kita nganterin orang mabok!” akunya.

Namanya juga orang mabok, masih kata Rudi, ya tinggal tega nggak tega saja dia mau ngantar atau tidak. “Repotnya kadang-kadang, begitu diantar malah nggak bayar. Yaaaa namanya juga orang lagi mabbhok!” bebernya, sambil tetap tertawa. (*)