Meski Cukup Kondusif, Status Buton Tetap Siaga Satu

Klik untuk perbesar
Kerusuhan antar dua warga desa di Buton, Sulawesi Tenggara, Kamis (6/6). (Foto: Kompas)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Situasi pasca bentrokan antardesa di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (5/6) hari ini, Jumat (7/6) berangsur kondusif. "Situasi dan kondisi di sinisudah cenderung kondusif," ungkap Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhart saat dikontak rmco.id, Jumat (7/6).

Sekalipun begitu, ratusan petugas kepolisian dan TNI masih disiagakan di dua desa yang terlibat bentrokan, yakni Desa Sampoabalo dan Desa Gunung Jaya. Ada 317 personel gabungan dari Polda Sultra, Polres Baubau dan Buton yang diturunkan ke lokasi. Jumat pagi ini tadi, kepolisian telah menambahkan personelnya dari satuan Brimob. Sebanyak satu Satuan Setingkat Peleton (SST) dikirim ke sana.

"Sebelumnya sudah ada 2 SSK (Satuan Setingkat Kompi) atau 200 personel Brimob dan 2 SST TNI dari Korem Haluoleo," bebernya.

Baca Juga : Kemen PUPR Gandeng Kejagung

Polda Sultra sendiri belum mencabut status keamanan di wilayah itu menjadi siaga I. Penetapan status siaga I ini untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat, dan juga mengantisipasi terjadinya konflik sosial yang dikhawatirkan akan timbul di wilayah itu.

"Untuk anggota Polda Sultra kita melaksanakan siaga 1," imbuh Harry.

Kerusuhan antarwarga dua desa di Kabupaten Buton itu telah mengakibatkan dua orang meninggal dan delapan orang luka luka. Selain itu, 87 rumah terbakar, mengakibatkan ratusan warga mengungsi ke tiga desa, yaitu Desa Laburunci, Kelurahan Kombeli, dan Desa Lapodi.

Baca Juga : Aji Santoso Ajak 3 Pemain Timnas U-19 Perkuat Tim Persebaya Junior

"Untuk warga yang mengungsi yang terdata sampai siang ini adalah 871 jiwa," tutur Harry.

Harry bilang, pemicu bentrokan diawali dari malam takbiran. Saat itu, sekitar 40 warga Desa Sampoabalo, rata-rata pemuda, menggelar konvoi dengan sepeda motor. Mereka menggeber-geber motor di depan Desa Gunung Jaya. Warga Desa Gunung Jaya tak terima.

Keesokan harinya, saat seorang pemuda Desa Sampoabalo hendak ke rumah saudaranya untuk berlebaran, dia dipanah saat melintas di depan Desa Gunung Jaya. Tak terima, dia mengadu kepada teman-temannya. Warga Desa Sampoabalo yang jumlahnya sekitar 100 orang, kemudian menyerang Desa Gunung Jaya. Terjadilah tragedi pembakaran itu.
 Selanjutnya