Soal Tim Mawar, Moeldoko dan Ryamizard Jaga Perasaan Kopassus

Klik untuk perbesar
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu kompak menampik keterlibatan Tim Mawar dalam kerusuhan 22 Mei lalu. Mereka minta Tim Mawar tidak disebut-sebut lagi, karena sudah dibubarkan.

Dua jenderal purnawirawan itu tidak sedang membela tokoh mana pun. Hanya saja, mereka sedang menjaga perasaan Kopassus. Nama Tim Mawar mencuat dalam Majalah Tempo edisi 10 Juni 2019. Dalam artikel berjudul “Tim Mawar dan Rusuh Sarinah”, Tempo menyebut, salah seorang bekas anggota Tim Mawar diduga terkait aksi kerusuhan 22 Mei.

Ditanya soal ini, Moeldoko meminta Tim Mawar tidak dibawa-bawa dalam peristiwa kerusuhan itu. Eks Panglima TNI itu menegaskan, tim dalam Kesatuan Kopassus Grup IV TNI AD itu telah dibubarkan, sehingga tak ada kaitannya.

"Jangan bicara Tim Mawar lagi, karena Tim Mawar (itu) dulu. Mereka-mereka bagian dari Tim Mawar yang dulu. Hanya dikatakan ‘oh Tim Mawar’, tetapi sesungguhnya dalam kerusuhan sekarang ini tidak ada Tim Mawar,” ujar Moeldoko di Kantor Staf Kepresidenan Jakarta, kemarin.

Berita Terkait : Peradaban Sudah Maju, Menhan Ingatkan Kamboja Tak Gunakan Kekerasan untuk Selesaikan Masalah


Ia juga mengaku, tak mengetahui secara pasti apakah mantan anggota Tim Mawar terlibat secara perorangan dalam kerusuhan itu. Soal itu, dia menyerahkan kepada pihak kepolisian. Karena itu, Moeldoko sekali lagi meminta agar Tim Mawar tidak disebut-sebut lagi. “Nanti merancukan situasi,” imbaunya.

Senada, Menhan Ryamizard meminta Tim Mawar tidak dikaitkan lagi dengan kerusuhan yang menyebabkan sembilan nyawa melayang itu. Menhan tidak ingin masalah masa lalu diangkat kembali. Hal itu bisa melukai para prajurit Kopassus aktif.

“Sudahlah, Tim Mawar sudah berapa puluh tahun, sudah selesai, jangan dibawa-bawa lagi. Luka lama jangan dibawa-bawa lagi. Nggak baik itu,” tutur Menhan Ryamizard di kantornya, kemarin.

“Kasihan prajurit Kopassus, nggak tau apa-apa. Mungkin mereka belum lahir,” imbuhnya.

Berita Terkait : Maaf Kivlan Zen, Ryamizard Tak Bisa Bantu Anda

Eks Komandan Tim Mawar, Mayjen (Purn) Chairawan juga menegaskan, tim itu sudah bubar sejak tahun 1999. Dia pun keberatan dengan Majalah Tempo yang memilih diksi Tim Mawar dalam laporannya, soal dugaan keterlibatan salah satu anggota tim tersebut dalam peristiwa kerusuhan 22 Mei.


“Tim Mawar kan sudah bubar. Itu kan menyudutkan, berarti. Tahun 1999 sudah bubar,” tegasnya di Bareskrim Polri, kemarin. “Kalaupun ada, itu kan personel, anggota. Enggak mungkin satu orang dibilang tim atau dua disebut tim. Tim itu banyak,” tambahnya.

Dengan bubarnya Tim Mawar, lanjut Chairawan, setiap sikap yang dilakukan mantan anggotanya merupakan keputusan pribadi. Tidak ada lagi kepala yang punya kewenangan dan bertanggung jawab atasnya, termasuk soal pidana hukum. “Nggak ada lagi. Sudah bubar,” seloroh Chairawan.

Ia juga membantah dirinya terlibat kerusuhan 22 Mei. “Umur saya 63, mau cari apa lagi. Siapa yang membela saya kalau saya melanggar,” jelas dia. “Jangankan teman-teman saya atau partai saya, pemerintah pun tidak bisa bela saya," tandas Chairawan.

Berita Terkait : Pasang Badan, Menhan Tak Ada Kopassus Terlibat 22 Mei

Karena itu, Chairawan melaporkan Tempo ke Bareskrim Polri. Sebelumnya, dia juga sudah melaporkannya ke De- wan Pers. Nama yang disebut Tempo dalam laporannya, Fauka Noor Farid juga sudah membantah terlibat kerusuhan 22 Mei. Fauka mengaku bagian dari Garda Prabowo, kelompok relawan pendukung capres nomor urut 02 itu. Dia juga mengaku pernah beberapa kali mengunjungi kediaman Prabowo di Kertanegara. Namun, hanya untuk sekadar tahu perkembangan Pilpres. Dan dalam pertemuan di Kertanegara, tak pernah ada pembicaraan soal aksi massa.

"Tidak ada yang namanya merencanakan. Saya tidak pernah ikut merencanakan atau pun hadir dalam rapat-rapat pengerahan massa,” bantah Fauka di kawasan Jakarta Timur, Senin (10/6). [OKT]

RM Video