Gelar Praktik Pembuatan di Cilembu, UIN Bandung Gencar Sosialisasikan Manfaat Kefir

Klik untuk perbesar
Neneng Windayani (kiri). (Foto: Dok. LP2M UIN Bandung)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung terus melakukan sosialisasi mengenai hasil risetnya terkait manfaat kefir. Senin lalu (12/8), Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung kegiatan pengabdian kepada masyarakat tahap ketiga, di GOR Desa Cilembu, Sumedang. Pengabdian ini berupa praktik pembuatan dan pemanfaatan kefir susu dalam intervensi gizi spesifik pencegahan stunting.

Pengabdian ini dihadiri Kepala Desa Cilembu, Asep Saryono; Kepala Pusat PKM LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ramdani W Sururie; para pembicara, mahasiswa pendidikan kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung, para kader posyandu, serta ibu-ibu dari keluarga balita stunting. 

Di acara itu, Ramdani menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dan seluruh stakeholders dalam upaya penanggulangan stunting di Desa Cilembu khususnya, dan Kabupaten Sumedang pada umumnya. Pada kesempatan yang sama, pembicara pertama yang merupakan Sekertaris Desa Cilembu, Dian Nurdian, menyampaikan paparan program penanggulangan dan pencegahan stunting serta keutamaan 1.000 HPK hari pertama kehidupan.

Berita Terkait : Penuh Trik, Petani Cabe di Jambi Optimalkan Lahan Tidur

Nurdian menegaskan pentingnya pemahaman stunting bagi masyarakat, terutama dalam pencegahannya. Sebab, stunting tidak dapat diobati.  Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan yakni dengan mengkonsumsi kefir.

Kefir merupakan olahan susu fermentasi yang mengandung 60 probiotik. Di antaranya Lactobacillus, Streptoccus, Bifidobacteria dan Leuconostoc. Kefir memiliki banyak manfaat lain seperti dapat menurunkan atau menaikkan berat badan, mencegah diabetes, kolesterol dan lain-lain. 

Tidak hanya materi, di acara itu juga dilakukan praktik pembuatan kefir yang dipimpin oleh pembicara ketiga yang juga ketua panitia, Neneng Windayani. Pengabdian ini berupaya memberdayakan warga, terutama keluarga dengan balita stunting, agar dapat memproduksi dan memanfaatkan kefir susu secara mandiri dengan memanfaatkan sumber bahan baku yang melimpah di Desa Cilembu. 

Berita Terkait : Menhub Hadiri Peluncuran KA Bandara Dari Stasiun Manggarai

Pada kesempatan itu, setiap peserta dibekali kit fermentor, bibit kefir, dan susu murni sebanyak 2 liter untuk dibawa ke kediaman masing-masing. Selama melakukan fermentasi, peserta didampingi kader pos yandu yang telah mengikuti TOT pada pengabdian tahap kedua 15-22 Juli 2019.  

"Pendampingan dan pemanfaatan kefir susu bagi balita stunting ini merupakan pengabdian tahap keempat dan akan berlangsung hingga pekan kedua Oktober 2019. Sedangkan hasil pemanfaatan produk selanjutnya akan dicek pada pengabdian tahap kelima, yakni evaluasi, refleksi, dan tindak lanjut," tutur Neneng Windayani.

Warga yang dapat memproduksi kefir secara mandiri diharapkan dapat mengkonsumsi dan menggunakannya sebagai makanan tambahan bagi balita stunting secara rutin dan berkelanjutan. Tidak hanya dalam olahan murni kefir, namun warga juga dapat menambahkan kefir dalam berbagai menu makanan dan minuman seperti es krim, pudding, dan lainnya. Hal ini bertujuan dengan mengkonsumsi kefir, stunting dapat dicegah sebelum terjadi.

Berita Terkait : Kemarau Panjang, Petani Cabe di Gunung Kidul Malah Untung

Pada akhir kegiatan, peserta dan pembicara mendapat kejuatan dari Bupati Sumedang yang tampil memberikan apresiasinya melalui video. Dalam pernyataannya Bupati mengungkapkan sangat berterima kasih kepada Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, LP2M UIN Bandung, khususnya kepada tim dosen yang telah menyelenggarakan pengabdian masyarakat di daerahnya.

"Dengan adanya kegiatan tersebut, selain komunitas warga di Desa Cilembu memiliki kegiatan positif dalam pemanfaatan sumber daya alam termasuk susu sapi, warga di sini jadi tahu berbagai hal dari mulai asal usul, proses pembuatan, dan varian kefir susu serta dapat manfaatkan langsung untuk pencegahan stunting bagi warga kami. Semoga kegiatan ini terus berlangsung dan bisa berkembang ke desa-desa lainnya serta berhasil mengurangi prevalensi stunting di Kabupaten Sumedang," ucapnya. [USU]