Potensi Kerek Pariwisata Tanah Air

Ayam Penyet Pikat Negeri Tetangga

Klik untuk perbesar
Ilustrasi ayam penyet (Foto: Primarasa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Apa makanan kesukaanmu Zaini? Tanya saya kepada seorang jurnalis Permata, harian di Brunai Darusalam. Nama lengkapnya, Muhammad Ruzaini. “Ayam penyet, Pak,” jawab Zaini.

Sebagai jurnalis Indonesia saya bangga mendengarnya. Makanan asal Jawa Timur itu, disukai warga asing. Zaini bercerita, dia sangat sering makan ayam penyet. Rasanya gurih dan pedas, memanjakan lidah. Rumah makan penjual ayam geprek langganannya di Bandar Seri Begawan, laris manis. Kalau mau makan harus antre.

Lain Zaini, lain Chong King Lock. Penulis Feature Harian Guan Ming, Malaysia ini mengaku kerap melihat sajian menu ayam penyet, marak dijual di berbagai pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur. Hanya saja, ia jarang mencicipi lantaran tak begitu suka pedas.

"Setahu saya, ayam penyet memang banyak dijual di pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur. Banyak yang suka. Tapi, saya jarang makan ayam penyet. Soalnya, pedas," ungkapnya.

Jurnalis Malaysia yang lain, Foreign Editor New Straits Times, Azman Abdul Hamid mengaku suka sekali dengan ayam penyet. Dia bahkan mengacungkan jempol, sebagai tanda apresiasi lezatnya kuliner khas Indonesia itu.

"Banyak peminatnya di sini. Saya pun pernah coba. Enak rasanya," tutur Azman.

Berita Terkait : Mendes: BUMDes Pariwisata Dongkrak Usaha Kecil Rakyat Desa

Selain penuturan Zaini, King Lock Chong dan Azman, masih banyak testimoni para traveler tentang ayam geprek menjajah negeri tetangga. Terutama di dunia maya.

Hal itu sejalan dengan cerita sukses pebisnis restauran asal Indonesia, Edy Ongkowijaya. Dia kini memiliki 28 gerai restoran  “Dapur Penyet” di empat negara, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Indonesia.

Di Tanah Air,  pesona ayam penyet dan geprek memikat banyak orang. Rumah makan mengusung menu itu muncul di mana-mana.

Saya tergugah menulis daya tarik geprek setelah saya pulang dari Thailand, pekan lalu. Di Negeri Gajah Putih, saya sempat mampir ke Pattaya. Nonton pertunjukan Ladyboy Show (transgender)  di Alcatar Cabaret.  Saya lihat kiri kanan, mayoritas penontonnya orang Indonesia.


Hitungan kasar saya, seisi ruang pertunjukan, seratusan kursi,  75 persen penontonnya warga ASEAN. Sisanya dari China, Timur tengah, dan negara lain. Pandangan saya, sejatinya tidak ada yang istimewa dari koreografi para ladyboy.Biasa sajalah. Orang Indonesia juga bisa. Yang mereka jual hanya keunikan ladyboy.

Thailand berhasil menjual itu jadi daya tarik wisatawan. Sederhana sekali. Pemerintah kita sedang menggalakkan industri pariwisata. Pilihan smart. Saya kira, semua orang harus mendukung. Tanpa kecuali. Banyak negara di belahan dunia, juga sedang giat melakukannya.

Berita Terkait : Presiden Jokowi Sahkan Perjanjian Penerbangan Indonesia-Turki

Industri pariwisata memang sedang menggeliat. Efek konektivitas dan harga ongkos pesawat yang makin terjangkau. Traveling sudah menjadi gaya hidup warga masyarakat dunia. Di sisi lain, industri ini cara cepat mendongkrak kinerja perekonomian negara. Mengurangi pengangguran dan mendatangkan devisa.

Kini, tinggal adu potensi dan strategi merebut pasar saja. Soal potensi, Indonesia di Asia Tenggara tak terkalahkan. Nah soal strategi, mohon maaf, masih bikin gemes banyak orang.

Bukan subjektivitas saya. Tapi pandangan banyak pelaku usaha tour dan travel. Padangan mereka tidak bisa dianggap sepele. Ibaratnya urusan jalan-jalan sudah jadi makanan sehari-hari.  Contoh kecil, promosi membidik pasar turis Eropa. Ya, upaya itu bagus-bagus saja.  Tapi, zengan anggaran negara yang terbatas, tak salah jika promosi dilakukan dengan ekstra cermat. Asalkan hasil optimal. Anggaran harus dikonsolidasikan lagi.

Kembali ke soal ayam penyet dan geprek.  Saya mencium potensi. Jika itu dikapitalisasi bisa menjadi jalan merebut turis negeri tetangga. Misalnya, bikin event Festival Ayam Geprek. Jika skalanya masih dianggap kekecilan, bisa saja digabung dengan festival fashion milenial kaki lima.

Apalagi, menurut catatan para pebisnis travel, ribuan milenial negeri tetangga gemar belanja pakaian ke Jakarta dan Bandung. Mereka berburu fashion kekinian dengan harga miring.  Jika bisa mendongkrak kedatangan turis negeri tetangga, kenapa harus memaksakan diri merebut pasar turis yang jauh. Bukankah Presiden Jokowi sudah berkali-kali bicara tentang efisiensi pameran wisata?  

Kita garap serius dulu pasar negeri tetangga. Jika sukses, pasti berefek pada potensi pasar lainnya. Ayam geprek dan fashion, itu hanya salah satu potensi saja.

Berita Terkait : Promosi Kuliner Indonesia Turut Genjot Reformasi Ekonomi Zimbabwe

Berdasarkan data ASEAN Secretary, kunjungan kedatangan turis mancanegara ke kawasan ASEAN berjumlah 136.206.199 orang.  Thailand berada di peringkat pertama dengan jumlah kedatangan wisatawan 38.300.000 orang. Urutan kedua Malaysia, 25.800.000. Kemudian disusul Singapura, 18.500.000. Sedangkan  Indonesia, harus puas di peringkat empat dengan jumlah 15.806.199. Padahal, kita punya banyak potensi. Yang kelihatannya kecil, tapi bernilai fantastis. 

Pikiran sederhana saya, kita garap dulu yang biaya pemasarannya tidak mahal, tapi memiliki potensi pasar menjanjikan. Semoga makin maju pariwisata negeriku.  ***  

Sarif HidayatPenulis adalah jurnalis Rakyat Merdeka