Jalur Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Aman

BNPB: Letusan Krakatau Tak Akan Sedahsyat Ibunya

Klik untuk perbesar
Letusan Gunung Anak Krakatau yang terekam oleh kapal patroli TNI AL pada Rabu (3/1) pukul 16.30 WIB. (Foto: Twitter Sutopo Purwo Nugroho)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hampir setiap hari, Gunung Anak Krakatau meletus. Pada Rabu (3/1), terhitung pukul 00.00-24.00 WIB, terjadi 37 kali letusan, 42 kali hembusan, dan tremor menerus. Asap kawah bertekanan sedang-kuat, warna putih, kelabu dan hitam terlihat dengan intensitas tebal setinggi 2.000 meter dari puncak kawah.

Statusnya masih belum berubah: Siaga (level 3). Dalam status ini, daerah yang dinyatakan berbahaya berada dalam radius 5 km dari kawah. "Masyarakat dihimbau tenang dan meningkatkan kewaspadaan. Jalur pelayaran Merak - Bakauheni aman. Tidak terpengaruh letusan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, dalam akun Twitter-nya.

Berita Terkait : BNPB: Aman, Wisata Selat Sunda


Sutopo menjelaskan, Gunung Anak Krakatau selalu mempunyai jeda waktu istirahat beberapa hari, sebelum akhirnya meletus beruntun. "Jika ada letusan baru, itu sudah perilaku Gunung Anak Krakatau. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau," ujar Sutopo.

Gunung Anak Krakatau diyakini tidak akan seperti ibunya, Gunung Krakatau, yang meletus dahsyat pada 1883. "Jika ditemukan ada retakan saat ini, itu wajar pada gunung api pasca letusan. Percayakan pada PVMBG selaku otoritas pemantau gunung api. Mereka punya alat, SDM, ilmu dan pengalaman," kata Sutopo.

Berita Terkait : Demi Keselamatan, Dirjen Hubud Terus Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Tahun 1883, tiga gunung di Selat Sunda yakni Gunung Rakata, Gunung Danan. dan Gunung Perbuatan meletus bersamaan. Letusannya besar dan menimbulkan tsunami besar setinggi 36 meter. Lalu, gunungnya hilang. Kemudian, pada 1927, muncul Gunung Anak Krakatau. "Tidak mungkin letusan Gunung Anak Krakatau akan sama seperti tahun 1883," tandas Sutopo. [HES]