Di Kantor Badan Meteorologi, Klimatologi & Geofisika

Ada Simulator Gempa Bumi BMKG

Klik untuk perbesar
Ruang Simulator Gempa Bumi (Sumber : BMKG).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kinerja Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) disorot banyak pihak. Sebab, peringatan dini tsunami di Palu, Sulawesi Tengah dan Anyer, Banten, terlambat.

Padahal, BMKG  mempunyai peralatan untuk memantau gempa bumi dan tsunami. Peralatan itu berada di Lantai 2, Gedung C, Kantor BMKG. Kantor yang terletak di Jalan Angkasa 1, Nomor 2, Kemayoran, Jakarta Pusat. Sebelum memasuki ruang pemantauan, pengunjung disuguhkan ruang simulator gempa bumi. Posisinya di ruang lobi. Ukurannya tidak terlalu besar. Hanya 4x4 meter. Didesain menyerupai ruang tamu. 

Ada dua kursi lengkap dengan meja. Beberapa macam buah tiruan diletakkan di atasnya. Di bagian belakang, terdapat lemari yang cukup besar. “Pengunjung bisa merasakan sensasi gempa hingga 7 skala richter (SR) di ruangan ini,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, di Gedung BMKG, Rabu (9/1). 

Dua pengunjung memberanikan diri memasuki ruang simulator ini, demi merasakan sensasi gempa bumi. Tak lama kemudian, petugas membuat simulasi gempa berkekuatan 7 SR. Kemudian, ruangan bergetar hebat. Buah buahan imitasi di atas meja, berjatuhan ke lantai. Dua pengunjung itu berpegangan erat ke kursi yang mereka duduki. Simulasi gempa 15 detik ini, tidak mengakibatkan kursi, meja dan lemari jatuh. 

Selanjutnya, menuju ruang pemantauan gempa dan tsunami di lantai dua. Ada dua lift tersedia. Setelah sampai, langsung dihadapkan dengan ruangan yang penuh layar monitor. Setidaknya, ada 20 layar berukuran kecil. Lalu, dua layar berukuran besar. 

Dua layar besar itu, menampilkan seluruh pulau di Indonesia. Lengkap dengan titik seismeter yang terpasang. Seismeter bertujuan memantau gempa bumi. “Seluruh aktivitas pemantauan gempa dan tsunami, dipusatkan di sini,” Dwikorita berkata. Suhu udara di ruang pemantauan dingin. Sebab, sengaja disetel rendah. Soalnya, ruangan ini penuh peralatan elektronik yang mudah panas. 

Beberapa petugas terus mengamati puluhan layar monitor. Layar yang menampilkan berbagai kondisi seismeter di berbagai wilayah. “Ada 170 seismeter yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujar Staf Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, Widiyatmoko. 

Dalam ruang pemantauan, di atas layar monitor diletakkan beberapa helm kuning. Tak ketinggalan, bendera berbagai negara dipasang di atas layar monitor yang berukuran besar. “Kami bekerja sama dengan jaringan internasional untuk mendeteksi gempa bumi. Seismeter-seismeter terhubung langsung ke ruang ini,” ucap Widiyatmoko. Widiyatmoko menjelaskan beberapa tahapan terjadinya gempa bumi yang diterima dari seismeter. Yang berpotensi tsunami maupun tidak, sebelum disampaikan ke publik. 

Saat terjadi gempa bumi, lanjut dia, data akan terlihat, diterima dan diolah di D1 Seismic Processing System (Seiscomp3). “Dalam pengolahan data, kami akan mendapatkan informasi titik gempa dan besar getarannya,” ucap Widiyatmoko. 

Selanjutnya, dari hasil data D1 Seismic Processing System, jika getaran melebihi Magnitudo 7 akan langsung terhubung ke alat D2 Back up Toast. Gempa dengan guncangan lebih dari M 7 akan diolah kembali, apakah guncangan tersebut berpotensi tsunami atau tidak. 

Setelah hasilnya terlihat, kata dia, BMKG akan menginformasikan terjadinya gempa bumi di suatu lokasi. Juga, peringatan dini potensi tsunami di wilayah terdekat titik terjadinya gempa. “Jika gempanya Magnitudo 5,5 ke bawah, cukup diolah di D1 Seismic Processing System dan berupa informasi gempa bumi,” sambungnya.

Selanjutnya, informasi guncangan akan langsung terhubung datanya ke D4 atau Dissemination System. “Informasi itu akan langsung dipublikasikan terkait titik gempa dan skala angka guncangan tersebut,” ucap Widiyatmoko. 

Bila gempa bumi terjadi lebih besar atau di atas magnitudo 7, kata dia, maka hasil parameter gempa akan diolah dan diskenario untuk memodelkan ada potensi tsunami atau tidak. 

Widiyatmoko menambahkan, ketika sudah muncul informasi guncangan dengan skala tinggi dan peringatan potensi tsunami, BMKG akan mamantau alat bernama D5 Non Seismic Monitoring. “Alat ini terhubung dengan pemantau tsunami seperti; tide gauge, buoy, atau GPS,” tandasnya. 

Bila muncul hitungan ada potensi tsunami, selanjutnya adalah peringatan tsunami pada lima menit pertama. Hal ini harus diwaspadai masyarakat. “Setelah itu, kita lihat dan monitor untuk mengukur ketinggian gelombang tsunami,” jelasnya. [TIF]

RM Video