Marriage Is A Life Journey (3)

Klik untuk perbesar
Imam Shamsi Ali (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pada bagian lalu disebutkan bahwa pernikahan itu adalah perjalanan hidup untuk saling melengkapi. Maka pria dan wanita dalam pandangan Islam itu bagaikan “pakaian” (libaas) yang saling bersesuaian dan menutupi. Kata yang paling tepat untuk menggambarkan semua adalah “partnership”. Keenam, bahwa perkawinan itu adalah a journey of love atau perjalanan hidup dalam ikatan cinta dan kasih.

Al-Quran menggambarkan bahwa terjadinya “saling tertarik” (litaskunuuh) antara dua manusia yang berbeda jenis kelamin (pria-wanita) itu adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Yang unik kemudian bahwa ketertarikan itu kemudian diperkuat atau diperindah dengan, “mawaddah” (cinta kasih) dan “rahmah” (kasih sayang).

Mawaddah itu adalah rasa hati. Tapi mawaddah atau rasa hati pada tataran ini pada galibnya didorong oleh faktor-faktor eksternal. Orang cinta biasanya karena kecantikan, kepopuleran, kekayaan, keahlian (ilmu), atau bahkan karena karakter pasangannya. Mencintai karena faktor-faktor tertentu itulah representasi dari kata “mawaddah”.

Berita Terkait : BTN Luncurkan Asuransi Syariah

Apakah mencintai karena faktor-faktor eksternal itu salah? Tentu tidak. Justeru hadits Rasululllah SAW menjelaskan bahwa wanita dinikahi karena empat faktor. Tiga di antaranya bernuansa  eksternal; kecantikan, kekayaan, keturunan. Walaupun pada akhirnya hendaknya faktor agama dan akhlak harus menjadi motivasi prioritas. Karena Itulah benteng pernikahan yang paling solid.

Karena itu “mawaddah” perlu dijaga. Kecintaan dan faktor-faktor kecintaan itu tetap perlu dijaga. Kecantikan misalnya, atau sebaliknya ketampanan bagi pria, bukan tidak perlu. Isteri dan juga suami perlu menjaga agar tetap memiliki attraksi (daya tarik) bagi pasangannya.

Bukan sebaliknya seperti kata orang. Ketika bersama pasangan berpakaian lusuh, bau terasi, dan tidak menampakkan keindahan yang menarik pasangannya. Tapi ketika bersama orang lain, keluar rumah misalnya, maka semua faktor ketertarikan itu diumbar. Akibatnya yang tertarik bukan pasangannya lagi, melainkan orang yang harusnya tidak punya hak atas dirinya.

Baca Juga : AS Dan Korut Diam-diam Bahas Rencana Pertemuan Ke-3 Trump dan Kim Jong Un

Karenanya sekali lagi pernikanan adalah a journey of love, perjalanan menumbuh suburkan cinta kasih itu. Tapi untuk itu terjadi tentu jangan sampai faktor-faktornya terabaikan.
Ketujuh, perkawinan itu adalah a journey of “mercy” atau perjalanan “rahmah” atau kasih sayang. Jika “mawaddah” termotivasi oleh faktor-faktor eksternal maka “rahmah” (kasih sayang) itu tumbuh dari sebuah kesadaran “internal”. Yaitu sebuah kesadaran yang secara pertimbangan akal manusia terkadang tidak diterima.


Rasulullah SAW digelari “rahmatan lil-alamin” (kasih sayang bagi seluruh alam) karena kecintaan atau kasih beliau kepada semua alam tidak lagi didorong faktor-faktor ekstrenal. Beliau sayang kepada pengikutnya. Tapi juga sayang kepada yang menentangnya.

Itulah esensi rahma. Yaitu ekspresi kasih yang tumbuh dari dalam hati kecil, yang termotivasi oleh satu satu faktor; ridho Allah SWT. Maka sangat logis jika Al-Quran menggandengkan kata “mawaddah” dengan kata “rahmah”. Karena di saat-saat mawaddah terkikis oleh perjalanan masa, hendaknya pernikahan menjadi solid dengan fondasi “Rahmah”.
 Selanjutnya 

RM Video