Fungsi Jumantik Harus Dioptimalkan

Empat Bulan, RSUD Tangsel Rawat 141 Pasien DBD

Klik untuk perbesar
Musim hujan, nyamuk pembawa virus dengue, yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus jadi ancaman. Penyebab DBD. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pasien demam berdarah dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) cukup banyak. Ada 22 pasien yang dirawat. Mayoritas dewasa. Sejak Oktober 2018 hingga Januari 2019 terdapat 141 pasien.

Kepala Bidang Pelayanan Medis (Kabid Yanmed) RSU Tangsel dr Imbar Umar Gozali mengatakan, data pada Rabu (6/2) total keseluruhan pasien DBD di RSU Tangsel, sebanyak 22 orang. “Ada yang dirawat di UGD. Yang di UGD belum bisa masuk rawat inap karena kamar penuh,” tandasnya.

Bila kamar di ruang rawat inap sudah tersedia, lanjut Imbar, pasien yang berada di UGD agar masuk ke ruang rawat inap. “Mungkin dalam waktu satu atau dua hari ini,” ujarnya.

Berita Terkait : Tidak Ada Spanduk Capres Di Kantor Partai Bulan Bintang

Imbar menegaskan, pihaknya akan terus meningkatkan pelayanan bagi pasien DBD. Meski kamar inap terbatas, kata dia, apabila dibutuhkan karena kondisi mendesak, maka perawatan bisa dilakukan di ruangan lain ataupun selasar rumah sakit.  “Semua pasien yang berobat akan ditangani, nggak boleh ditolak,” tegasnya.

Lebih lanjut Imbar mengatakan, seluruh pasien DBD yang berada di RSU Tangsel bebas biaya. Sebab, mayoritas pasien telah memiliki kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Bila tidak ada, kata dia, mereka menggunakan KTP Tangsel. “Asal bawa KTP Tangsel gratis rawat inap,” ucapnya.

Imbar menjelaskan, berdasarkan data pasien per tiga bulan, sejak Oktober 2018 hingga Januari 2019, RSU Tangsel telah melayani 141 pasien DBD. Yang meninggal satu pasien berinisial A, pada akhir Januari 2019.

Baca Juga : Pengusaha Sambut Baik Perjanjian IK-CEPA Dengan Korsel

“Sebenarnya korban menderita pneumonia (infeksi paru). Jadi, bukan karena DBD,” tandasnya. Untuk pasien meninggal karena murni penyakit DBD, Imbar memastikan tidak ada selama tiga bulan terakhir. “Pokoknya kondisi membaik, langsung bisa pulang,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf mengatakan, dalam menangani demam berdarah dengue (DBD), pemerintah sudah memiliki program pelatihan juru pemantau jentik (Jumantik) yang tersebar hingga ke tingkat desa. “Bila DBD meningkat, Kecamatan atau Desa harus segera mengoptimalkan fungsi jumantik,” ujar Dede.

Menurut Dede, Jumantik bisa melakukan pemantauan terhadap lingkungan yang disinyalir terdapat nyamuk aedes aegypti. Penyebar virus DBD. Bila dalam satu daerah ditemukan ada nyamuk aedes aegypti, kata dia, maka dinas kesehatan bisa melakukan langkah- langkah lanjutan, seperti memberikan bubuk abate. "Fogging atau pengasapan jika diperlukan,” ujarnya.

Baca Juga : Laba Bersih WOM Finance Naik 19 Persen

Selain itu, politikus Demokrat ini meminta masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan, terutama melakukan pembersihan terhadap tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk, seperti wadah-wadah air, kaleng bekas dan benda lainnya. “DBD bisa dicegah dengan meminimalisir sarang nyamuk,” ujarnya. [TIF]

RM Video