Terpisah 810 Km, Bocah Korban Gempa Palu Bertemu Lagi Dengan Keluarganya

Klik untuk perbesar
Bayu (baju kotak-kotak) senang bisa berkumpul kembali dengan keluarga. (Foto: Dok. YSTC)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gempa bumi dan tsunami yang mengguncang Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah pada 28 September silam, menyisakan cerita pilu bagi Bayu. Betapa tidak. Bocah kelas I SD berusia 7 tahun itu terpisah dari Neni (40) ibunya, sejauh 810 km. Bayu yang tinggal bersama keluarganya di Palu, terbawa gelombang pengungsi hingga ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Ditambah lagi, sang ayah turut menjadi korban gempa tsunami tersebut. Beruntung, Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) mitra Save the Children berhasil mempertemukan Bayu dan ibunya. “Saya sangat bersyukur bisa bertemu kembali dengan Bayu. Seminggu saya tidak mendapatkan kabar apa-apa. Saya dapat kabar, ternyata Bayu ada di Makassar”, ungkap Neni dengan mata berkaca-kaca.

Neni yang kakinya luka akibat terkena reruntuhan gempa, tak lantas bertemu dengan Bayu. Mereka hanya saling berkirim kabar via HP. Di Makassar, Bayu ikut mengungsi dengan kolega Neni, Ati (40), yang saat terjadi gempa berusaha menyelamatkan Bayu dari reruntuhan bangunan. “Saat itu, suasananya begitu rumit. Saya belum dapat menemukan keluarga Bayu. Karena itu, saya bersama dengan gelombang pengungsi membawa Bayu ke Makassar,” begitu kata Ati.

Saat terjadi gempa, Neni memang sudah terpisah dari Bayu, yang ketika itu sedang bermain di anjungan bersama teman-temannya. “Setelah terpisah hampir dua bulan, hari ini saya sangat senang Bayu bisa kembali pulang ke rumah. Bayu bisa kembali bersekolah. Dia bisa bertemu lagi dengan teman-temannya di sini," ujar Neni menahan haru.

Sebelumnya, Bayu terdaftar sebagai anak yang terpisah dari keluarganya, melalui tim identifikasi YSTC yang berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah dilakukan penelusuran dan keberadaan keluarga, Bayu dan Neni berhasil dipertemukan pada Jumat (23/11), di tempat tinggal Neni yang berlokasi di daerah Mantikulore, Palu, Sulawesi Tengah.

Dalam proses reunifikasi, YSTC bekerja sama dengan Kementerian Sosial, Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah, dan Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan melalui Sekretariat Bersama Perlindungan Anak yang berada di masing-masing provinsi. “Upaya reunifikasi ini dapat berjalan dengan lancar karena dukungan dari semua pihak, yang memastikan anak-anak bisa tetap diasuh oleh keluarganya.” ungkap Rosianto Hamid, Field Operation Director YSTC. Ia berkeyakinan, keberhasilan ini dapat memberikan harapan baru agar keluarga ataupun anak-anak lainnya yang saat ini berada dalam kondisi terpisah dari keluarganya, bisa berkumpul kembali. [HES]

RM Video