Layat Keluarga Petugas Pemilu yang Wafat

Menkes : Almarhum Seorang Pejuang

Klik untuk perbesar
Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek melayat salah satu keluarga petugas Pemilu 2019 di Jalan Swadaya RT 07/03 Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan yang meninggal usai pencoblosan. Kedatangannya disambut oleh istri almarhum yang bekerja sebagai kader Posbindu, Rabu (15/5). (Foto: Marula Sardi/Rakyat Merdeka).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek melayat salah satu keluarga petugas Pemilu 2019 di Jalan Swadaya Rt 07/03 Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan yang meninggal usai pencoblosan.

Menkes mengatakan bahwa almarhum adalah seorang pekerja yang ulet dan tanpa pamrih. “Kami turut berduka cita, almarhum adalah soerang pekerja yang ulet, pekerja keras tanpa pamrih, dan atas kemauan sendiri,” katanya.


Menkes disambut oleh istri almarhum yang bekerja sebagai kader Posbindu. Menurut sang istri, sebelum bertugas almarhum memeriksakan kesehatan di posbindu hasilnya semua terkontrol, termasuk penyakit diabetes mellitus yang sudah diidap sejak 2016 lalu.

Berita Terkait : Menkes Apresiasi 6 Gubernur dan 56 Bupati

Almarhum bernama M. Napis, wafat di usia 54 tahun. Menkes mengapresiasi tugas yang dilakukan oleh almarhum sebagai petugas Pemilu, dengan beban kerja yang berat sejak tanggal 16-18 April 2019 almarhum selalu pulang pagi hari.

Setelah tanggal 18 April, almarhum tetap mengawal proses penyelenggaraan Pemilu dengan penuh tanggung jawab. Padahal saat itu almarhum sedang sakit menderita diabetes mellitus.


“Almarhum sudah batuk-batuk, sudah ke rumah sakit dan kembali lagi dan bekerja seperti biasa, pulang selalu pagi,” kata Menkes.

Berita Terkait : Menkes Himbau Pengurangan Iklan Rokok di Internet

Sejak tanggal 18 April almarhum merasa sakit, muntah-muntah kemudian berobat dan sembuh. Almarhum kembali bekerja seperti biasa. Pada tanggal 28 April 2019 almarhum melakukan patroli ke GOR tempat penghitungan suara dan pulang dini hari.

Pukul 4.15 sampai di rumah, setelah sholat subuh dada sesak, kemudian dibawa ke ICU. Saat itu kadar gulanya tinggi.


“Bapak (almarhum M. Napis) tidak tertolong lagi meningalkan ibu (istri almarhum). Kami merasa sangat prihatin dan kami katakan bapak adalah seorang pejuang untuk negara kita, bangsa kita. Patut kita mengatakan bapak adalah pejuang demokrasi, semoga Tuhan mengampuni segala kesalahan almarhum,” kata Menkes. [MRA]

RM Video