Lewat Ludruk, MPR Bangkitkan Semangat Persatuan

Klik untuk perbesar
Dari kiri: Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antar Lembaga, dan Layanan Biro Humas MPR Muhamad Jaya, Anggota MPR H Mohammad Nizar Zahro, dan Kepala Biro Humas Setjen MPR Siti Fauziah foto bareng bersama tokoh masyarakat Sumenep di sela acara Sosialisasi Empat Pilar MPR di Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Sabtu (20/7) malam. (Foto: Humas MPR)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sosialisasi Empat Pilar MPR yang dikemas dengan pergelaran seni budaya ludruk di Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Sabtu malam (20/7), disambut antusiasme luar biasa dari masyarakat.

Lapangan Desa Juluk yang jadi lokasi sosialisasi empat pilar, tak mampu menampung arus penonton yang datang dari berbagai desa di Kecamatan Saronggi. Penonton luber hingga ke luar lapangan.

Saat sambutan, Kepala Biro Humas Setjen MPR Siti Fauziah mengungkapkan rasa bangganya melihat tingginya antusiasme masyarakat, yang menyaksikan pagelaran seni ludruk tersebut. Apalagi, pergelaran seni budaya trasional ini diselenggarakan dalam rangka sosialisasi Empat Pilar MPR. 

Berita Terkait : Sosialisasi 4 Pilar, MPR Bidik Semua Kalangan

“Saya bangga karena malam ini penonton cukup padat. Ini pertanda bahwa masyarakat di sini sangat menyukai Seni Budaya Ludruk,” kata Siti Fauziah selaku ketua penyelenggara pentas seni budaya ini.

Siti Fauziah menjelaskan, dalam memasyarakatkan Empat Pilar yang menyasar berbagai elemen masyarakat, MPR menggunakan berbagai metode. Untuk siswa SLTA, metodenya Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar. Untuk guru dan pejabat-pajabat daerah, melalui Focus Group Discussion (FGD) atau seminar. Sedangkan untuk mahasiswa, menggunakan metode Kemah Empat Pilar dan Training of Trainers (ToT), dan masih banyak lagi metode lainnya.

"Seni budaya dipilih menjadi salah satu metode sosialisasi, karena di dalamnya mengandung filosofi yang berisi tuntunan yang dapat dijadikan panutan. Jadi, bukan cuma sekadar tontonan," tutur Siti Fauziah.

Berita Terkait : MPR Anggap Pro-Kontra Amandemen UUD Wajar

“Mudah-mudahan cerita ludruk yang disampaikan dalang M Didik, melalui lakon ‘Legenda Sumenep’ dapat memberi manfaat untuk masyarakat, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.

Pergelaran seni budaya ludruk di Sumenep pasca pilpres ini dibuka oleh Anggota MPR H Mohammad Nizar Zahro. Acara ini diwarnai semangat persatuan. Betapa tidak, di bawah tenda besar yang diperuntukkan pementasan seni budaya ludruk ini, selain berkumpul para pejabat daerah bersama warga dan tokoh masyarakat dari berbagai elemen, juga hadir Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi Biro Humas MPR Muhamad Jaya para Kepala Desa, Camat Saronggi, Danramil, Kapolsek, serta para kepala Dusun dan Karang Taruna.

“Inilah tujuan diadakannya pergelaran seni budaya ludruk, untuk menyatukan seluruh lapisan masyarakat. Karena kita sama-sama menyadari, bahwa yang kita urus adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara milik kita semua, bukan negara milik satu kelompok. Dan, inilah makna kita berbeda,” ungkap Nizar.
 Selanjutnya