Kasus Jiwasraya Momentum untuk Benahi Pasar Asuransi

Ketua Komisi XI DPR, Dito Ganinduto (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Ketua Komisi XI DPR, Dito Ganinduto (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kondisi gagal bayar yang menimpa Jiwasraya dapat memberikan dampak sistematik terhadap pasar keuangan. Utamanya asuransi. Untuk mengantisipasi hal itu, Ketua Komisi XI DPR, Dito Ganinduto, meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pihak terkait turun tangan dan menyelesaikan kasus itu.

“Kepercayaan nasabah harus tetap terjaga demi terwujudnya visi Pak Presiden Jokowi dalam meningkatkan foreign direct investment. Ekonomi kita mulai membaik di tengah-tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Iklim investasi harus didukung oleh tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap pasar keuangan dan asuransi,” ucap Dito, di Jakarta, Senin (9/12).

Sebelumnya, sebanyak 48 nasabah PT Asuransi Jiwasraya mengadukan perusahaan itu ke DPR. Jiwasraya dilaporkan belum membayar tunggakan polis asuransi ke para nasabah. 

Berita Terkait : Pelaku Industri Optimis, Kasus Jiwasraya Tak Pengaruhi Kinerja Industri Asuransi

Dito menerangkan, OJK harus banyak belajar dari kasus ini untuk menghindari dampak sistemik. “Kasus Jiwasraya ini mirip sekali dengan kejadian AIG di Amerika Serikat pada tahun 2008. Selain harus menyelesaikan kasus Jiwasraya ini, OJK juga harus membuat aturan yang mengantisipasi agar kasus yang sama tidak terulang lagi,” ucap politisi senior Partai Golkar ini.

Dito menyarankan, aturan pasar asuransi perlu di-review semuanya. OJK harus membuat kebijakan dan aturan yang bersahabat namun tetap dapat menjaga stabilitas pasar keuangan dan asuransi. “Kami di Komisi XI DPR siap bahu membahu bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi,” ucapnya.

Selain fokus untuk menyelesaikan masalah yang terjadi saat ini, tambah Dito, OJK juga harus memiliki visi yang jauh ke depan. Seperti halnya industri lain, pasar asuransi juga harus siap dengan gempuran insurtech

Berita Terkait : Komisi XI DPR Fokus Penyelesaian Duit Nasabah

Layaknya fintech, kata Dito, insurtech merupakan perpaduan antara industri asuransi dengan teknologi dalam menjembatani antara nasabah dan produk asuransi. Data statistik menunjukkan, di akhir 2018, hanya 1,7 persen dari seluruh penduduk di Indonesia memiliki asuransi. 

“Popularitas asuransi masih sangat rendah di negara kita. Namun, Indonesia memiliki pasar asuransi yang cukup besar, di kisaran 150 miliar dolar AS. Potensi yang besar ini akan mengundang pemain asuransi dunia untuk masuk dan penetrasi terhadap pasar Indonesia. Salah satu fenomena global yang sudah terjadi di dunia adalah insurtech. Insurtech ini sudah dan akan terus memberikan perubahan yang massif terhadap pasar Asuransi di dunia,” terangnya.

Aturan dan regulasi yang dibuat OJK, kata Dito, harus visioner untuk mengantisipasi gempuran insurtech ini ke Indonesia. Negara lain seperti Amerika dan India sudah mulai menerapkan aturan dari industri asuransi teknologi ini. 

Baca Juga : Warga Minta Perbaikan Total, Jangan Setengah-setengah

“Kita harus melihat layaknya Ojol dan fintech, insurtech diyakinkan akan memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mengakses produk-produk asuransi. OJK jangan ketinggalan zaman. Cepat atau lambat, generasi milenial akan masuk di pasar asuransi. OJK harus siap dengan memberikan karpet merah di dunia asuransi,” tandasnya. [USU]