DPR Minta Penimbun Masker Dan Sembako Ditindak Tegas

Wakil Ketua DPR, Rachmat Gobel. (Foto: Instagram)
Klik untuk perbesar
Wakil Ketua DPR, Rachmat Gobel. (Foto: Instagram)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua DPR Bidang Industri dan Pembangunan Rachmat Gobel mengecam keras, tindakan pelaku usaha, distributor, pedagang, dan penimbun alat medis pelindung diri dan sembako untuk kepentingan sendiri. Tindakan aji mumpung yang mereka lakukan tidak saja merugikan dan merasahkan masyarakat, tetapi juga mengacaukan produksi dan pasokan, serta instabilitas nasional.

“Pemerintah harus menindak para pelaku secara tegas dan cepat, sebelum kepanikan masyarakat semakin meningkat. Kondisi kedaruratan ini jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan menimbulkan potensi kerugian ekonomi, sosial, dan politik,” tegas Gobel di Jakarta, Rabu (4/3).

Gobel juga meminta masyarakat, tidak panik dan menahan diri untuk melakukan aksi borong berbagai komoditas strategis karena ketakutan. Masyarakat juga diharapkan mengikuti perkembangan secara seksama dari sumber informasi resmi dan kredibel soal perkembangan dampak virus corona, ketersedian stok bahan pokok, dan rumah sakit rujukan yang bisa didatangi jika mencurigai ada indikasi awal gejala suspek virus corona.

Berita Terkait : Juve Diuntungkan Pembatalan Semifinal Copa Italia

Lebih lanjut, dia menegaskan, langkah preventif penanganan dampak corona terhadap ancaman instabilitas ekonomi dan politik harus dilakukan. Pemerintah harus membentuk tim satgas penanganan para pelaku aji mumpung yang bertujuan memperkaya dirri sendiri dengan sanksi pidana, bahkan jika sudah mengarah ke instabilitas nasional dengan pidana subversif.

Pada saat yang sama, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Kesehatan, Bulog, dan BUMN, diminta meningkatkan kekuatan stok pangan dan alat medis pelindung diri. Saat ini, kata Gobel, ia melihat dari berbagai pemberitaan dan informasi dari berbagai sumber kemungkinan adanya kekurangan pasokan dan stok.

“Melihat situasi ini, saya melihat ada potensi kekurangan dan kenaikan harga sejumlah alat medis pelindung diri untuk mencegah penyebaran virus corona. Pemerintah dan industri harus dengan segera melakukan koordinasi antara eksekutif dan legislatif, meningkatkan produksi sebesar sekitar 50 persen. Hal itu untuk mengantisipasi adanya lonjakan permintaan, pembelian karena panik, penimbunan, dan penyalahgunaan,” ujar Gobel.

Berita Terkait : Jokowi: Yang Timbun Masker Akan Berurusan dengan Polisi

Jika tidak dilakukan segera akan membahayakan tim medis di garis depan yang menangani pasien yang terpapar virus corona. Dokter perawat, maupun tim di level fasilitas kesehatan (faskes) terdepan akan tidak siap merawat pasien Covid-19, karena terbatasnya akses ke persediaan seperti sarung tangan, masker medis, pelindung mata, dan jubah.

Tim Satgas Virus

Oleh sebab itu, pembentukan Tim Satgas Virus Corona, dimaksudkan untuk mengamankan ketersediaan dan pasokan barang strategis. Apabila ditemukan ada oknum siapapun mereka jika terbukti menimbun harus segera ditindak tegas dan tindakan itu harus diketahui publik untuk menimbulkan efek jera.

Berita Terkait : Waspadai Dampak Ekonomi Corona, Tito Minta Pencairan dan Penyaluran Dana Desa Dipercepat

Pada saat yang sama, tim yang didalamnya ada unsur polisi siber melakukan patroli lalu lintas berita di lini media manapun yang mengarah pada informasi hoaks dan meresahkan masyarakat untuk di blokir dan diinvestigasi penyebarnya. Langkah komprehensif ini diharapkan mengeliminir kepanikan dan percepatan penyebaran virus. Pada saat yang sama akan mengantisipasi gejolak karena kepanikan kehabisan stok pangan dan alat medis pelindung diri.

Kominfo harus berdiri di garis depan sebagai koordinator pendistribusian informasi yang benar secara cepat dan tepat waktu. Artinya, melalui koordinasi dengan Kemenkominfo satgas pangan, satgas kesehatan, dan satgas siber menginformasikan segala sesuatu secara pasti, kredibel dan akuntabilitas.

“Pada waktu berkala saya minta legislatif dan eksekutif, yakni komisi dan kementerian terkait  melakukan korodinasi dan rapat-rapat konsultasi berkala selama proses terjadinya penyebaran corona virus. Dengan demikian diharapkan penanganan pasien dan wabah terkoordinasi dengan baik, cepat dan komprehensif,” kata Gobel. [DIT]