RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid, menyatakan pentingnya keilmuan pesantren di tengah gempuran modernisasi. Metode pendidikan santri dianggap mampu menciptakan generasi yang bertanggung jawab.      

"Tradisi pesantren harus djaga, karena sekarang instan. Semua ditanya ke Mbah Google. Yang aktif di media sosial itu bukan di kalangan santri," ujar Jazilul, di acara Lembaga Bahtsul Masail, di Masjid Soghir, Kota Gresik, Minggu (8/3).        

Baca Juga : Menteri Basuki Libatkan BUMN Karya Percepat Pemulihan Sulbar

Jazilul tidak anti-modernisasi. Termasuk teknologi. Baginya, teknologi itu memudahkan. Misalnya, kehadiran transportasi online hingga ilmu pengetahuan. Namun, pola belajar praktis ini yang bisa dikembalikan kepada belajar langsung dengan kiai. "Di sinilah tantangan dari dunia pesantren," katanya.      

Sebenarnya, kata Jazilul, ada cara khas Nahdlatul Ulama (NU) untuk memfilter informasi. Yaitu melalui Bahtsul Masail, atau bermusyawarah dengan kiai. Jadi, ada guru langsung yang menjadi rujukan menjawab pertanyaan.      

Baca Juga : Jangan Lupa, Genjot Potensi Pariwisata-Kuliner Sumatera Barat

"Sehingga ketika masyarakat bertanya ke media sosial, jawabannya fatwa dari sebelah. Medsos ini bikin malas masyarakat bertanya ke Kiainya. Nah, Bahtsul Masail inilah yang mempertemukan," katanya.        

Jazilul berharap, Bahtsul Masail dikembangkan. Caranya, membumikan kembali kitab kuning, dan mengorbitkan ahli kitab kuning dengan beasiswa atau reward lainnya. Pengembangan ini, bisa dimulai dari Kota Santri, Gresik.        

Baca Juga : Catat Yuk, 5 Lokasi Layanan SIM Keliling Di Jakarta Hari Ini

"Gresik kota santri, salah satunya dicirikan Bahtsul Masail dan kitab kuning. Kalau perlu kitab kuning internasional. Jangan kompetisi gede-gedean ikan bandeng saja," pungkasnya. [BSH]