Ekspor Jagung 380 Ribu Ton

DPR Percaya Pemerintah Berhasil Swasembada Jagung

Petani jagung tenang karena pemerintah tak akan impor jagung. Tahun 2019, Indonesia surplus jagung (Foto : istimewa)
Klik untuk perbesar
Petani jagung tenang karena pemerintah tak akan impor jagung. Tahun 2019, Indonesia surplus jagung (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Komisi IV DPR Roem Kono berharap tidak ada lagi pihak yang meragukan mengenai produksi jagung dalam negeri. Terlebih, Presiden Jokowi sudah menegaskan bahwa produksi jagung Indonesia terus meningkat.

Indonesia sudah bisa mengurangi impor jagung sampai 3,6 juta ton. Untuk yang tidak percaya produksi jagung meningkat, politisi senior Partai Golkar ini mengajak turun ke lapangan. Bisa ke Gorontalo, Jawa Timur, atau Sulawesi Selatan.

“Awal tahun 2019 ini kita sedang menghadapi panen raya jagung,” katanya. Dia pun meminta urusan impor jagung tidak diributkan lagi. “Impor itu diperlukan hanya sewaktu-waktu saja. Kondisi saat ini, produksi jagung Indonesia sudah mencapai swasembada,” jelasnya.

Baca Juga : Polisi Buru Pemilik Mobil Yang Males Bayar Pajak

Sebelumnya, dalam Silaturahmi Nasional dengan Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) se-Indonesia, di Gor Jatidiri, Semarang, Senin kemarin, Presiden Jokowi memaparkan perkembangan produksi jagung dalam negeri. “Untuk jagung sebagai contoh, kita sudah bisa menyetop impor 3,6 juta, dan kita kemarin tahun 2018 sudah ekspor jagung sebanyak 380 ribu ton,” ucapnya.

Jokowi kemudian mengingatkan perlunya mengatur waktu penanaman agar saat panen tidak terjadi kelebihan suplai yang mengakibatkan harga anjlok. “Diperlukan pengaturan-pengaturan. Komunikasi antara kita di seluruh Tanah Air diperlukan untuk menjaga supply dan demand pada mana- jemen makro,” pesannya.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menambahkan, ke berhasilan meningkatkan produksi jagung ini memang mem- banggakan. Keberhasilan ini tidak lepas dari inisiatif Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkan aturan harga jagung di petani minimal Rp 3.150 per kilogram pada awal pemerintahan.

Baca Juga : Perbaikan Jalan Rusak DKI Jangan Cuma Tambal Sulam

Kemudian, kebijakan ini ditopang dengan program lain terkait produksi jagung secara besar-besaran. Programnya berupa pemanfaatan benih unggul jagung tongkol dua dan jagung hibrida. Selain itu, dilakukan peningkatan indeks pertanaman jagung di sawah, perluasan di lahan kering, integrasi jagung sawit lewat tumpangsari, dan tanam jagung di lahan hutan.

“Bahkan, di lahan seperti kuburan, pematang sawah, dan pinggir jalan pun ditanami jagung. Pemuda tani milenial pun bertanam jagung karena menguntungkan,” jelas Amran.

Dari aspek hilir, Kementan juga memerhatikan ketersediaan sarana pasca panen. Yaitu dengan bermitra dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Hasilnya, produksi meningkat sehingga Indonesia mampu menyetop impor 3,6 juta ton setiap tahunnya.

Baca Juga : Hadiri Doa Mingguan, Paus Fransiskus dalam Kondisi Sehat

Dalam hitungan kasar, selama 4 tahun terakhir, Indonesia bisa mengu- rangi impor jagung senilai Rp 40 triliun. Pada 2017, tambah Amran, Indonesia sama sekali tidak impor jagung pakan ternak. Kemudian, di 2018, Indonesia sudah berhasil mengekspor jagung sebanyak 341 ribu ton.

“Memang ada impor sisa 130 ribu ton pada akhir 2018 oleh Bulog, bukan oleh swasta. Ini dibagikan khusus peternak kecil untuk pakan unggasnya dan sebagai stok berjaga-jaga. Tidak dijual bebas di pasar,” tegas Amran.

Dia kemudian mengutip data Food and Agriculture Organization (FAO) 2018, yang menempatkan Indonesia di peringkat 8 produsen jagung terbesar dunia. Produksi jagung Indonesia cuma kalah sama Amerika Serikat, China, Brasil, Argentina, Ukraina, Meksiko, dan India. [KAL]