Krakatau Steel Bukukan Keuntungan, Komisi VI DPR: Kuncinya Hilangkan Inefisiensi

Deddy Yevri Sitorus (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Deddy Yevri Sitorus (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi VI DPR Deddy Yevri Sitorus mengapresiasi PT Krakatau Steel yang berhasil membukukan laba sesuai laporan keuangan yang diaudit auditor Price Waterhouse Coopers (PWC). Deddy menyebut, hal itu sebuah kemajuan yang menggembirakan setelah bertahun-tahun publik mendapat kabar buruk soal Krakatau Steel, bahkan diisukan akan bangkrut.

Krakatau Steel berhasil meraih laba bersih sebesar 74,1 juta dolar AS pada kuartal I-2020. Emiten berkode KRAS ini akhirnya mencatat laba dalam 8 tahun terakhir. Perbaikan kinerja perusahaan di kuartal I-2020 terutama disebabkan penurunan beban pokok pendapatan sebesar 39,8 persen dan penurunan biaya administrasi dan umum sebesar 41,5 persen.

Berita Terkait : Komisi III DPR Desak Kejagung Usut Tuntas Kasus Penyalahgunaan Impor Tekstil

“Sudah lama diketahui bahwa selain keputusan investasi bisnis yang salah beberapa tahun lalu, inefisiensi, adalah penyakit yang paling akut dari PT Krakatau Steel. Karena itu tidak mengherankan ketika manajemen berhasil menekan biaya opex (operating expenses) induk sebesar 31 persen YoY dan optimalisasi tenaga kerja meningkat sebesar 43 persen, perseroan berhasil melakukan penghematan biaya sebesar 130 juta dolar AS pada kuartal I-2020,” kata Deddy, dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (29/5). 

Menurut anggota DPR dari Dapil Kalimantan Utara ini, manajemen Krakatau Steel belum saatnya berpuas diri. Sebab tantangan internal dan eksternal yang dihadapi masih cukup besar. Oleh karena itu, Deddy menyarankan manajemen Krakatau Steel dan Kementerian BUMN bekerja sama memanfaatkan momentum ini untuk melakukan restrukturisasi bisnis secara menyeluruh. 

Berita Terkait : DPR Dukung Pelibatan TNI-Polri Dalam Menyiapkan New Normal

“Banyak anak perusahaan yang tidak sesuai core bisnis dan menjadi beban harus dilikuidasi atau dikerjasamakan untuk mengurangi beban dan memaksimalkan energi pada fokus bisnis Krakatau Steel. Perlu di-review semua strategi bisnis, kemitraan investasi dan value creation dari bisnis Krakatau Steel,” ujarnya.

Deddy berharap, agar Kementerian BUMN menerapkan model efisiensi Krakatau Steel ini di berbagai BUMN lain. Dia menegaskan, masalah semua BUMN itu hampir sama, yaitu inefisiensi bisnis yang akut dan fokus serta strategi bisnis yang tidak jelas. “Saya yakin Pak Erick Tohir sebagai Menteri BUMN memahami dan sudah mulai mengerjakan ini,” kata Deddy. 

Berita Terkait : Komisi VI DPR Minta OJK Tak Gampang Labeli Ilegal ke Koperasi DigitalĀ 

Untuk penyertaan modal negara (PMN), Deddy mengusulkan difokuskan pada BUMN pangan seperti PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), PT Berdikari (Persero), Garam (Persero), PT Perikanan Nusantara (Persero), PT Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Persero), PT Bhanda Ghara Reksa (Persero), PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero), dan PT Pertani (Persero).

“Selain cluster pangan, Kementerian BUMN harus memberikan perhatian kepada cluster industri strategis. Ini penting untuk mengurangi impor di bidang-bidang strategis dan berpengaruh terhadap ketahanan nasional,” ujarnya. [USU]