RMco.id  Rakyat Merdeka - Kalung anti Covid-19 yang rencananya dikeluarkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Senator meminta Mentan fokus saja urus pangan.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sultan Bachtiar Najamudin mengatakan, rencana Kalung Anti Covid-19 itu mengada-ada dan tak sesuai  dengan tupoksi Kementerian Pertanian (Kementan). Produk yang diteliti Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dari tanaman Eucalyptus (kayu putih) itu perlu diuji klinis oleh pihak berkompeten.

“Dokter, kalangan akademisi, bahkan masyarakat awam tidak percaya dengan keampuhan kalung itu. Selain belum ada bukti uji klinisnya, sedikit aneh  kalau Mentan ngurusin yang bukan bidangnya,” ujar Sultan melalui keterangan tertulisnya kepada wartawan, kemarin.

Berita Terkait : Fahri Hamzah Ajak Publik Biarkan Kementan Fokus Pada Risetnya

Dalam jangka pendek, sambung dia, kebutuhan pangan saat pandemi Covid-19 mungkin tercukupi. Namun, persoalan tersebut selalu menjadi isu  fundamental yang mengemuka dari tahun ke tahun, terlebih  pertumbuhan penduduk di Asia terus meningkat pesat.

“Jika produktivitas pangan  khususnya beras tak diperhatikan, kami khawatir masyarakat bakal menjadi korban. Itu yang harus jadi fokus Kementan,”  tegas senator dari Provinsi Bengkulu ini.

Lebih lanjut, Sultan mewanti-wanti Menteri Syahrul  saat menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk kepentingan yang di luar kebutuhan. Apalagi, Kementan berencana menggandeng PT Eagle Indo Pharma (Cap Lang) untuk memproduksi kalung antivirus itu dan perjanjian lisensi formula antivirus berbasis minyak eucalytus itu diteken di Bogor pada pertengahan Mei 2020.

Berita Terkait : Disuruh Lepas, Mentan Nyengir

“Apalagi Mentan mengatakan akan memproduksinya massal, ini sumber dananya darimana? Jangan bilang nanti anggarannya dari APBN. Kalau memang  tidak bisa dicegah dan memaksa akan produksi kalung itu secara massal, silakan. Tapi, jangan  pakai APBN,” tandasnya.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menguji produk Kementan. Sebab, Menteri Syahrul  terlalu berani, mengerjakan  tugas yang di luar tupoksinya, hingga menimbulkan kegaduhan  di tengah masyarakat.

“Tugasnya Kementan, fokus saja menanam tanaman. Jika ingin tahu khasiat tanaman itu apa, biar Kemenkes yang melakukan penelitian. Persoalan kayu  putih (kalung anticorona), yang  pantas menjawab ya Kemenkes. Jadi, bukan ranah DPR atau Kementan. Jadi, Kemenkes harus berikan penjelasan kepada  publik,” kata Dedi.

Berita Terkait : Menterinya Ngomong Begini, Anak Buah Ngomong Begitu

Jika produk kalung anticorona sudah diuji Kemenkes,  sambung dia, produk tersebut  bisa diproduksi secara massal  dan dipasarkan kepada masyarakat. “Kalau bisa, Kementan jangan  menggunakan APBN. Bukan ranahnya. Soal produksi, biar masyarakat yang produksi,”  tandasnya.

Terpisah, mantan Wakil Ketua  DPR Fahri Hamzah membela Kementan terkait riset dan inovasi dalam penanganan Covid-19. Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia ini menyarankan agar lembaga  riset melakukan penelitian lebih lanjut terkait kalung eucalyptus itu.

“Saya yakin bukan tidak mungkin, vaksin virus corona  yang saat ini sedang diteliti di seluruh dunia ternyata ada di Indonesia. Jadi biarkan, jangan  mencemooh. Suruh itu lembaga Eijkman, suruh itu Biofarma cek benar atau tidak. Itu yang saya kira jadi salah satu PR kita ke depan,” ujar Fahri. [ONI]