RMco.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi VI DPR Evita Nursanty memandang, memasukkan BUMN pariwisata ke dalam rencana pembentukan Holding Aviasi tidak tepat. Menurutnya, BUMN pariwisata bisa terseret ke lubang masalah jika dipaksakan saat ini.

“Saya berpendapat sebaiknya BUMN pariwisata tidak ditarik ke sana (Holding Aviasi). Dari luar sepertinya pondasi makin kuat karena bersinerginya kekuatan pariwisata dan transportasi. Tapi, ingat ini industrinya berbeda-beda, dan dalam situasi kita butuh dorongan kepada pariwisata malah pariwisata akan bisa tertekan akibat cross default dan tidak bisa bergerak karena masalah yang dihadapi BUMN Aviasi,” kata Evita, di Jakarta, Rabu (12/8).

Berita Terkait : Temui Dubes Anil, Azis Syamsuddin Ucapkan Selamat HUT ke Singapura

Politisi PDIP menyatakan, kurang pas kalau pembentukan holding dilakukan pada kondisi seperti ini. “Tentu kita mendukung semua maju. Tapi kita harus katakan rencana ini kurang pas untuk sekarang. Kawan-kawan pariwisata yakin ini rentan sekali, bisa men-trigger event of default bagi BUMN lain. Kemudian, jelas nanti tidak ada lagi BUMN pariwisata karena semua jadi anak usaha BUMN Aviasi sehingga industri pariwisata tidak terwakili di jajaran BUMN,” sambung Evita.

Dia mengingatkan, industri pariwisata memiliki peran besar dalam pembangunan Indonesia, posisinya merupakan sektor terbesar kedua dalam menghasilkan devisa maupun total revenue. Jangan sampai niat membantu BUMN tapi mengganggu yang lain. Apalagi, jenis industrinya berbeda-beda, tidak seperti Holding Pupuk atau Perkebunan atau Semen yang relatif seragam.

Berita Terkait : Komisi IV DPR Akui Balitbangtan Menjadi Kunci Produktivitas Padi Indonesia

“Jadi lebih bagus pariwisata itu dijadikan holding tersendiri, kita butuh konsolidasi, kita butuh pariwisata tetap di depan. Alasannya pariwisata adalah lokomotif pembangunan ekonomi dan sektor lainnya. Dengan demikian cara pandangnya adalah pariwisata harus didukung semua sektor transportasi, bukan dibuat menjadi di bawah avisasi. Cara pandang yang benar ini perlu untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia yang memang mengandalkan pariwisata,” ucap Evita.

Salah satu alasan untuk menggabungkan BUMN pariwisata masuk Holding Aviasi adalah untuk menggaet pasar yang lebih luas. Namun, menurutnya, tanpa masuk holding pun upaya meraih pasar yang lebih luas bisa dilakukan. Evita khawatir, dipaksakannya BUMN pariwisata masuk Holding Aviasi akan ikut membuat pariwisata yang sudah mati suri saat pandemi Covid-19 ini akan makin sulit ke depan. [USU]