RMco.id  Rakyat Merdeka - Kenaikan tiket pesawat beberapa waktu lalu tidak hanya memukul sektor pariwisata. Sektor pertanian juga. Para petani menjerit karena biaya kargo naik sampai 200 persen. Alhasil, ongkos pengiriman menjadi lebih mahal dari harga produk pertanian.

Anggota Komisi V DPR Anton Sihombing meminta maskapai penerbangan memerhatikan jeritan petani ini. Maskapai harus segera menurunkan biaya kargo. Terlebih, Pemerintah sudah menurunkan harga avtur.

“Pemerintah dan Pertamina kan sudah mengejar harga avtur. Secepatnya, perusahaan penerbangan harus menyesuaikan,” kata politisi Partai Golkar ini, kemarin.

Anton menyebut, penyebab utama kenaikan tiket pesawat itu diawali tingginya harga avtur di berbagai bandara dalam negeri. Dia mencontohkan, harga avtur di Bandara Kualanamu, Medan, tembus hingga Rp 9.800 per liter. Padahal, harga avtur di Bandara Changi, Singapura, hanya sekitar Rp 6.500 per liter.

Berita Terkait : Warisan Budaya, Ketum Kowani Ajak Masyarakat Cintai Batik

Kini, Pemerintah dan Pertamina sudah menurunkan harga avtur. Harga tiket pesawat juga berangsur turun. Namun, biaya untuk kargo masih mahal. Anton berharap, pihak maskapai segera menurunkan biaya kargo itu.

Jika maskapai tidak mau menurunkan tarif kargo, Anton meminta Pemerintah bersikap. “Pemerintah harus menunjukkan diri sebagai state, yang mempunyai kewenangan penuh buat regulasi dan mengatur perusahaan penerbangan. Tidak bisa perusahaan penerbangan membangkang pada Pemerintah,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Champion Cabe Indonesia Tunov Mondro Atmodjo menyatakan, gara-gara tarif penerbangan naik, biaya kargo juga naik. Kondisi ini membuat sebagian petani cabe gigit jari. Mereka terpaksa membatalkan pengiriman cabe keluar daerah karena biayanya sangat mahal.

“Yang biasa (mengirim) ke Sumatera, Batam, enggak jadi. Sebab, biaya pengiriman sangat tinggi,” kata Tunov.

Berita Terkait : Komisi IV Ingatkan Kementan Ancaman Kelangkaan Pangan

Tunov menjelaskan, komoditas seperti cabe dan sayur-sayuran tidak bisa dikirim lewat kapal. Pengirimannya harus memakai pesawat. Sebab, komoditas ini tidak tahan lama. Jika memakai kapal, kondisinya bisa busuk di jalan. Dia kemudian membeberkan kenaikan biaya kargo itu.

“Untuk ekspedisi pesawat, kisaran kenaikannya beragam. Dari 100 sampai 300 persen. Tergantung lokasinya,” ucapnya.

Mahalnya biaya kargo ini, lanjutnya, tidak cuma memberatkan para petani. Kenaikan biaya kargo ini juga bisa mendorong inflasi besar di masyarakat. Kondisi tersebut tentu kurang baik bagi ekonomi nasional.

“Misalnya, harga di tingkat petani Rp 15 ribu per kilogram. Kemudian, biaya pengiriman pesawat Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram. Tiba di Sumatera, harganya bisa Rp 65 ribu per kilogram. Padahal, di petani Rp 15 ribu per kilogram. Jadi, secara ekonomis tidak memungkinkan,” katanya.

Baca Juga : Bareskrim - Kejagung Jalan Sendiri-sendiri

Atas hal itu, kata dia, petani cabe menghentikan pengiriman hasil produksinya ke luar Jawa. Sayangnya, kondisi ini menyebabkan sentra-sentar produksi over produksi. Sebab, serapan cabe di masyarakat menjadi rendah.

“Akibatnya, harga di daerah sentra jadi anjlok. Sebab, cabe menumpuk tapi tidak terkirim. Sekarang saja, kawan saya petani di NTB (Nusa Tenggara Barat) tidak kirim sama sekali. Rugi total. Sedangkan di luar sentra, harga tinggi,” tambah dia. [KAL]