RMco.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng mengemukakan, yang dilakukan pemerintah saat ini, lewat Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, sudah benar. Pemerintah bukan tidak paham angka-angka ekonomi seperti dikritik sebagian ekonom, tetapi yang dibangun adalah optimisme di tengah krisis. Pemerintah tidak mungkin hanyut dalam resesi dengan membangun narasi pesimisme, tetapi harus yakin dengan berbagai kebijakan yang diambil. 

"Dunia ini memang tidak seindah yang dibayangkan atau yang dikatakan. Tetapi kan optimisme harus dibangkitkan. Kalau pemerintah tidak bangun optimisme dalam situasi seperti sekarang ini, ya rusak negara ini," kata Mekeng, di Jakarta, Selasa (1/9). 

Hal ini disampaikan Mekeng untuk menanggapi kritikan Faisal Basri yang menyebut pemerintah kurang pemahaman mengenai resesi. Mekeng menjelaskan, yang dilakukan pemerintah adalah mencegah supaya pertumbuhan ekonomi di kuartal III (Juli-September) dan kuartal IV (Oktober-Desember) tidak turun ke minus yang lebih tinggi lagi. Pemerintah sedang bekerja membalikkan pertumbuhan ekonomi dari minus 5,32 persen pada kuartal II (April-Juni), turun ke minus 1 persen atau nol persen pada kuartal III, bahkan bila perlu menjadi positif. 

Baca Juga : Sahkan Pengurus Baru, IPI Siap Pulihkan Pariwisata Nasional

"Kalau dia (ekonomi) turun dari minus 5,32 persen menjadi minus 3 persen seperti disampaikan Basri, tentu itu dampak dari program-program yang dilakukan selama ini. Tentu ini merupakan signal dari perbaikan ekonomi kita," jelas Mekeng. 

Menurut mantan Ketua Komisi XI DPR ini, negara ini sedang mencari momentum atau tren agar terjadi pembalikan dari pertumbuhan ekonomi. Caranya, dengan melahirkan berbagai kebijakan konkret yang bisa menggerakan perekonomian. Misalnya penggelontoran anggaran yang besar ke UMKM, membentuk program kartu pra kerja yang mencapai Rp 2 4 juta per orang, Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rp 600.000 per orang, dan relaksasi serta restrukturisasi kredit dari perbankan. 

"Itu semua program-program untuk pemulihan ekonomi. Kalau kita bicara sebagai orang pemerintah, tentunya kita harus memberikan harapan optimisme kepada masyarakat. Bahwa optimisme itu dibangun karena sedang menjalankan program pemulihan ekonomi nasional. Menko Perekonomian bukan tidak tahu. Bukan tidak ngerti ekonomi. Dia sangat ngerti tapi angle-nya dari pemerintah yang harus memberikan optimisme kepada masyarakat. Masa harus ciptakan pesimisme. Nanti masyarakat tidak semangat dan hanya meratapi akan hadirnya resesi," jelas Mekeng. 

Baca Juga : Ayah Jaksa Pinangki Meninggal, Sidang Pembacaan Pledoi Ditunda

Mekeng menegaskan, program yang dijalankan pemerintah telah dibahas bersama DPR. Artinya, program pemulihan ekonomi bukan sesuka hati pemerintah tetapi mendapat masukan dan pertimbangan dari parlemen. 

Di sisi lain, program-program yang diluncurkan untuk membangkitkan daya beli masyarakat. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih besar disokong oleh konsumsi masyarakat. Pemerintah memang sedang menarik investasi dengan berbagai cara. Namun belum banyak berhasil dalam situasi krisis seperti sekarang. Maka, yang dikerjakan saat ini adalah menjalankan progran konkrit berupa dukungan besar ke UMKM karena UMKM menjadi motor penggerak ekonomi. UMKM yang hidup dan bergerak penuh akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian bisa meningkatkan konsumsi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. 

"Jadi apa yang disampaikan Menko Perekonomian dilihat dari sisi pemerintah. Bahwa ada orang atau pengamat mengatakan itu salah, ya orang itu melihat dari sisi lain. Jadi angle melihatnya berbeda. Tapi bukan tidak ngerti ekonomi. Semua orang juga bisa baca dari angka-angka yang ada, bukan hanya pengamat. Tapi kan pemerintah harus membangun optimisme," tutur mantan Ketua Fraksi Partai Golkar ini. 

Baca Juga : Gubernur Bengkulu Dan Bupati Kaur Penuhi Panggilan KPK

Dia mengharapkan, dalam situasi krisis seperti sekarang, para pengamat atau pengkritik tidak hanya nyinyir atau kritik ke pemerintah. Kritik boleh tapi sangat dihargai jika disertai solusi atau tawaran jalan keluar. Pasalnya, orang pinggir jalan juga bisa lakukan kritik. Bedanya yang di pinggir jalan, biasanya asal kritik saja, sementara pengamat atau tokoh tentu mempunyai banyak pengetahuan yang bisa memberikan tawaran solusi. "Ini persoalan bangsa. Krisis ini bukan hanya Indonesia tetapi seluruh dunia. Mari kita sama-sama bekerja untuk memperbaiki kondisi saat ini," tutup Mekeng. [TIF]